BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keunikan kepribadian seorang anak membuat kita sebagai orang dewasa harus benar-benar paham akan bagaimana cara untuk memahami seorang anak. Setiap anak berbeda baik dari segi kemampuan hingga kelemahan yang dimilikinya dan hal itu merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk menjadi bekal hidupnya kelak. Berhubungan dengan anak sebagai pribadi yang unik, maka setiap pribadi pasti memiliki masalah, tidak terkecuali seorang anak. Masalah-masalah tersebut adalah yang berhubungan dengan aspek belajar, sosial, maupun dirinya sendiri, baik di lingkungan keluarga dimana ia tumbuh dan berkembang maupun di lingkungan sekolah yang merupakan instansi ke dua bagi anak untuk menghabiskan waktunya sehari-hari.
Anak sebagai peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang unik, sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan mempunyai berbagai macam kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada diri anak senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Hal tersebut merupakan aspek-aspek psikologis dalam pendidikan yang bersumber dari dalam diri anak sehingga menuntut adanya pendekatan psikologis untuk memfasilitasi perkembangan anak tersebut.
Oleh karena itu, bimbingan konseling memiliki andil yang sangat besar dalam membantu setiap peserta didik agar dapat mandiri dan dapat berkembang secara optimal, dan dalam hal permasalahan dalam belajar siswa, bimbingan konseling turut berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan. Namun, masih sangat dirasakan bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk anak agak sulit. Disamping melihat dari segi kematangannya, konselor juga harus ingat bahwa anak memiliki karakteristik khusus maka dalam pemberian layanan pun harus disesuaikan.
Bimbingan dan konseling kelompok, merupakan wahana efektif yang bisa menjadi pilihan konselor untuk memberi layanan bimbingan konseling pada anak. Anak-anak sering berinteraksi dengan lingkungan, dan anak-anak juga biasanya menghabiskan banyak waktu dengan saling berinteraksi dalam kelompok, maka diperlukan pengaturan ideal untuk menempatkan bimbingan sebagai media informasi atau bisa juga pencegahan dan konseling sebagai peran kuratifnya agar anak dapat berinteraksi dengan baik . (Campbell, 1993; Gumaer, 1984)dan menyesuaikan diri dengan baik pula dalam rangka menguasai tugas perkembangannya. Hal-Hal paling mendasar yang mendasari prinsip berhadapan dengan anak-anak dalam kelompok adalah pada lingkungan alami masa kanak-kanak dan penyesuaian terhadap karakteristik dan masalah anak.
Di Sekolah Dasar dan Sekolah menengah (di mana kebanyakan anak-anak usianya di bawah 14 tahun), bimbingan kelompok digunakan untuk membantu anak-anak tidak hanya mempelajari keterampilan baru tetapi juga memiliki kesadaran akan nilai-nilai, prioritas, dan masyarakat. Kelompok kecil memberi anak untuk ” menyelidiki dan membahas lingkungan sosial dan tantangan emosional dengan orang lain yang sedang mengalami perasaan yang sama” (Campbell& Bowman, 1993, p. 1;3). Sebagai Contoh, konseling kelompok diberikan kepada anak-anak yang mempunyai life-event khusus yang berhubungan seperti kerugian dari orangtua akibat perceraian (Gwynn dan Brantley, 1987; Yaumann, 1991) atau tidak berhasil dalam nilai/kelas (Boutwell& Myrick, 1992). Konseling kelompok juga untuk anak-anak yang mempunyai permasalahan perilaku ” seperti perkelahian yang berlebihan, ketidak-mampuan untuk bergaul akrab, ledakan yang kejam, kelelahan yang kronis, ketiadaan pengawasan di rumah, dan melalaikan penampilan” (Corey, 1990, p. 9).
Dalam pelaksanaannya bimbingan konseling kelompok anak memang memerlukan keterampilan khusus, namun, yang lebih sering digunakan dan populer adalah menggunakan konseling bermain, brain gym, atau teknik exercise-exercise ringan. Movement exercise menjadi pilihan penulis untuk memberikan bimbingan dan konseling kelompok pada anak, mengingat karakteristik anak yang aktif dan banyak bergerak, maka movement exercise ini dimungkinkan agar anak menikmati dan berperan aktif dalam proses bimbingan dan konseling kelompok ini.
B. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari praktik movement exercise pada anak Sekolah Dasar ini, antara lain :
1. Mengetahui proses pelaksanaan dari movement exercise sebagai salah satu teknik dalam bimbingan konseling kelompok
2. Mengetahui tingkat keterlibatan anak (siswa SDIT PERSIS Ciganitri) dalam bimbingan konseling kelompok yang menggunakan teknik movement exercise
3. Mengetahui tingkat keberhasilan bimbingan dan konseling kelompok yang menggunakan movement exercise dalam mencapai tujuan bimbingan konseling yang ingin dicapai, yaitu untuk saling menghargai teman, memahami dan mengetahui kelemahan dan kelebihan diri.
4. Mengetahui kecocokan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok anak di SDIT PERSIS Ciganitri
C. Sasaran Praktikum
Adapun sasaran dari penggunaan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok adalah siswa-siswa dari kelas tinggi :3, 4, dan 5 Sekolah Dasar Islam Terpadu Persatuan Islam Ciganitri Bandung.
D. Tempat dan Waktu Kegiatan
Kegiatan bimbingah konseling kelompok dengan mengyunakan teknik movement exercise ini adalah di lapangan Pesantren Persatuan Islam no. 84 Ciganitri Bandung, dan dilaksanakan pada Hari Rabu, tanggal 4 Juni 2008, pukul 11.00 setelah siswa pulang sekolah.
E. Sistematika Penulisan Laporan
Penyusunan Laporan ini disajikan dalam 4 (empat) bab yang terdiri dari :
1. Bab I Pendahuluan. (Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, Sasaran Kegiatan, tempat dan waktu kegiatan serta Sistematika Penulisan Laporan)
2. Bab II Landasan Teoritis
3. Bab III Deskripsi Kegiatan
4. Bab IV Kesimpulan
Daftar Literatur

BAB II
LANDASAN TEORITIS
Konseling Kelompok Anak Dengan Teknik Movement Exercise

A. Definisi Anak
Permulaan masa anak-anak sering ditandai dengan masuknya anak ke sekolah (SD kelas 1). Pada masa ini anak mulai keluar dari lingkungan pertamanya yaitu keluarga, dan mulai memasuki lingkungan sekolah. Hurlock (1980, 149-166) menyatakan bahwa ada tiga ciri utama pada masa ini (masa sekolah) yang mampu menunjukan perbedaan dengan masa sebelumnya (prasekolah), antara lain:
1. Dorongan anak untuk masuk ke dalam dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan otot-otot.
2. Dorongan anak untuk keluar dari lingkungan rumah dan masuk ke dalam kelompok teman sebaya (peer group).
3. Dorongan mental untuk mematuhi dunia konsep-konsep logika, simbol, dan komunikasi secara dewasa.
Sebutan anak dalam dimensi perkembangan diberikan kepada individu yang berusia 1 sampai dengan 11 tahun. Hurlock memberikan sebutan anak terbagi dalam dua kelompok yaitu kanak-kanak dan anak. Kanak-kanak adalah individu dalam rentang usia 1-5 tahun dan anak adalah individu pada rentang 5-11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu berusia 4 sampai 8 tahun dan anak untu yang berusia 8 hingga 11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu dibawah 18 tahun, sehingga di dalamnya termasuk bayi, anak dan remaja awal.
Pada konteks kelompok dan konseling kelompok menurut Yalom, anak adalah kelompok individu di bawah 14 tahun, atau individu pada pendidikan Sekolah Dasar dan sekolah lanjutan pertama. Gadza secara spesifik membagi kelompok anak dalam kelompok Taman Kanak-kanak dan kelas rendah Sekolah Dasar, yaitu individu berusia 5 hingga 9 tahun atau anak-anak dalam usia dini serta kelompok pra-remaja atau remaja awal, yaitu individu yang berusia 9 hingga 13 tahun. Konseling kelompok dapat dilakukan pada anak nusia 3 hingga 4 tahun atau anak yang sudah mencapai kematangan dalam bersosialisasi.
Selain kematangan dalam bersosialisasi ada beberapa tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh anak usia sekolah dasar, dan terpenuhinya tugas-tugas perkembangan itu akan membuat anak dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Adapun tugas perkembangan anak usia sekolah dasar menurut Havighurts adalah :
1) Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2) Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3) Belajar bergaul dan meyesuaikan diri dengan teman sebaya.
4) Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5) Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6) Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7) Mengembangkan kata hati.
8) Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9) Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.

B. Karakteristik Anak pada Kelas Tinggi (9-13 tahun)
1. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
a) Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret
b) Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar
c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus
d) Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya
e) Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
f) Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.

2. Karakteristik Perkembangan Motorik dan Fisik
Perkembangan motorik anak lebih terkoordinasi terutama dengan tangan, kaki dan mata. Siap mempelajari dan terlibat aktif dalam berbagai keterampilan dan bermain olah raga formal seperti senam, renang, sepak-bola dan permainan yang menggunakan alat Bantu. Keterampilan motorik kasar lebih dikuasai anak laki-laki, sementara anak perempuan lebih menguasai keterampilan motorik halus. Perkembangan motorik yang makin baik dan beragam memungkinkan anak mengenal dunia secara fisik maupun simbolik secara lebih luas.
Kegiatan fisik penting bagi anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan serta upaya mengontrol dan mengekspresikan kekuatan fisik. Keterlibatan dalam aktivitas fisik mendorong p[ertumbuhan rasa aman, memperoleh tempat dalam kelompok teman sebaya dan konsep diri yang positif. Aktivitas fisik merupakan hal utama bagi pertumbuhan kognitif secara baik. Anak membutuhkan kegiatan fisik untuk membantu memahami berbagai konsep abstrak, seperti orang dewasa memerlukan contoh dan ilustrasi untuk memahami konsep yang tidak diketahui. Anak tergantung secara total terhadap pengalaman pertama menangani sesuatu hal bagi perkembangan kognitif pada tahap yang lebih tinggi.
Keterampilan fisik yang mendasar harus dikembangkan secara terus menerus selama masa sekolah sebagai respon terhadap minat, sikap fisik, pengalaman hidup anak, serta harapan orang lain. Anak menggunakan keterampilan dalam berbagi situasi kompleks pada saat bermain. Memfasilitasi anak bermain berarti memberi kesempatan penting yang diperlukan dalam kehidupan.
3. Karakteristik Perkembangan Kognitif (Tahap konkret-operasional)
Periode ini ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.
4. Karakteristik Perkembangan sosial
Krech et. al, 1962 (dalam Akhmad Sudrajat, 2006) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga kategori :
1) Kecenderungan peranan (role disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu.
2) Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain.
3) Kecenderungan ekspresif (expressive disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion).
Sementara itu, Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial anak pada usia sekolah dasar sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tahap Ciri-Ciri
Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan
Anak Sekolah ( 6 – 12 )
Masa Obyektif Membandingkan dengan aturan – aturan
Kritis II ( 12 – 13 )
Masa Pre Puber Perilaku coba-coba, serba salah, ingin diuji
Remaja Awal ( 13 – 16 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya

5. Karakteristik Perkembangan Kepribadian
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, (2005) mengemukakan perkembangan kepribadian anak School Age dengan kecenderungan yang bipolar :
Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

C. Kerja Kelompok Dengan Sasaran Anak-Anak
Penanganan kelompok anak memerlukan pengetahuan khusus tentang perkembangan manusia khususnya anak dan teori kelompok (dinamika kelompok dan proses kelompok). Pemimpin kelompok dituntut mampu beradaptasi dengan tingkatan social, emosional, fisikal dan intelektual anak serta memiliki kemampuan menggunakan teknik verbal maupun non verbal.
Kelompok anak berfungsi mempromosikan kesiapan dan kemampuan anak untuk belajar, keterampilan – keterampilan khusus/ baru, keterampilan hidup dan mengoreksi kondisi-kondisi yang tidak sehat, pengembangan sumber data atau potensi anak, mengembangaan kesadaran akan nilai, prioritas dan lingkungan ; mengeksplorasi dan menghadapi tantangan sosial dan emosional serta memperoleh pengalaman mengelola perasaan, bantuan terhadap permasalahan perilaku, kehidupan yang sehat serta pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Kelompok anak disebut sebagai bimbingan kelompok atau pendidikan-psikologis, konseling dan psikoterapi kelompok. Kelompok anak dilakukan dalam adegan sekolah dan di luar sekolah.
Tipe kelompok anak tergantung pada faktor perkembangan dan bukan perkembangan (Yussi,2003). Kelompok anak dibedakan atas tiga tipe. Pertama, kelompok yang dibentuk khusus untuk pemberian informasi. Pemimpin kelompok berfungsi sebagi guru dan bekerja sama secara langsung dengan guru . Tipe ini efektif untuk membantu anak mempelajari perilaku yang tidak tepat , mempelajari cara baru yang lebih mudah untuk berinteraksi dan memperoleh timbal balik yang aman serta situasi praktis. Teknik yang digunakan adalah diskusi dan bermain peran. Tipe ini lebih bersifat bimbingan kelompok dan pendidikan – psikologis.
Tipe kelompok yang kedua adalah kelompok yang dibentuk dalam rangka peningkatan keterampilan dan kesadaran dalam lingkup personal dan interpersonal termasuk didalamnya nilai, sikap, keyakinan, kematangan social dan perkembangan karir. Tipe ini bersifat remediatif yang berhubungan dengan konsep diri, keterampilan komunikasi, hubungan interpersonal, pemecahan masalah, keterampilan akademik, keterampilan komunikasi dan pengembangan nilai. Tipe ini bersifat konseling kelompok dan psikoterapi. Tipe yang ketiga merupakan aktifitas gabungan dua tipe sebelumnya, yakni dengan perhatian terhadap banyak dimensi spesifik.
Tahapan bimbingan kelompok dilakukan dengan akronim SIPA yaitu structuring (S), yakni konselor menjelaskan panduan kegiatan ; involvement (I), yakni anggota kelompok aktif berpartisipasi; processing (P), yakni berbagai ide serta awareness (A), yaitu mengkonsolidasikan apa yang telah dipelajari.
Kegiatan bimbingan dan konseling berfungsi mempromosikan pemahaman diri dan orang lain. Program bimbingan di dalam kelas disebut program DUSO-R (Developing understanding of self and other-revised. Teknik dalam bimbingan dan pendidikan-psikologis kelompok harus bervariasi dengan memperhatikan penggunaan fantasi, berfokus pada perilaku yang harus dikembangakan/ ditingkatkan, menciptakan pandangan positif tentang diri serta bekerja dengan visualisasi.
Konseling kelompok dalam adegan sekolah secara esensial berfugsi menumbuhkan kesehatan mental. Konseling kelompok membantu anak belajar tentang diri dan orang lain dalam interaksi yang terstruktur. Tiga pendekatan dalam konseling kelompok dapat dibedakan, yaitu: Pendekatan kelompok pusat krisis, yaitu kelompok dengan konflik diantara anggota kelompok; dalam hal ini individu ditantang untuk memahami situasi dan berpikir tentang solusi yang mungkin dilakukan.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kelompok pusat permasalahan, yaitu sebuah kelompok kecil yang memusatkan perhatian pada satu permasalahan. Teknik bermain peran digunakan pada tahapan ini. Kelompok yang sama adalah kelompok persahabatan dengan focus perilaku menyimpang, kekurangan keterampilan social dan penampilan persahabatan yang praktis.
Pendekatan yang ketiga adalah kelompok pusat pertumbuhan yang berfokus pada perkembangan social dan pribadi siswa. Kelompok bertujuan untuk mengeksplorasi perasaan, perhatian dan perilaku setiap hari.
D. Movement Exercise
BAB III
DESKRIPSI KEGIATAN

No Nama Kegiatan Deskripsi
1 Pendekatan – Mendekati dan mengenalkan diri pada anak kelas 4 yang sedang bermain bulu tangkis untuk berkumpul dan membentuk kelompok kecil
– Mengenalkan diri dan Mengajak bermain bersama kelas 5 yang sedang bermain sepak bola
2 Brain Gym Ditujukan untuk melatih konsentrasi teman-teman kelas 4&5 sebelum melakukan bimbingan konseling kelompok. Dalam kegiatan ini teman-teman kelas 4&5 membuat lingkaran-lingkaran kecil, menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan dan menjentikan jari serta menyebutkan nama sendiri dan nama orang yang berdiri di sebelahnya.
3 Permainan Pembuka
“Ganjil-genap,Hitam-putih”
(SKLB Terlampir) – peserta diminta membuat lingkaran besar, dan pendamping berdiri di tengah sambil memberikan instruksi permainan
– peserta diminta menghitung posisinya dan menyebutkan apakah dirinya termasuk dalam hitungan ganjil atau genap
– pada saat sedang bermain, peserta sangat antusias, mereka saling menguatkan pegangan supaya temannya yang condong ke depan atau ke belakang supaya tidak jatuh. Walaupun akhirnya ada saja peserta yang jatuh
– ketika refleksi dan evaluasi, peserta mengerti bahwa kita tidak boleh membiarkan teman kita jatuh, maka dari itu harus saling mendukung dan membantu pada teman
4 Permainan Pembuka
“Buka Kadonya”
(SKLB terlampir) – Peserta di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelas 4 dan 5 yang harus bersaing dalam membuka bungkus kado dimana setiap orang dalam kelompok itu hanya bisa menggunakan satu jari saja.
– Pendamping memberi instruksi untuk menunjuk ketua kelompok yang bertugas memimpin dan memberikan instruksi pada anggota kelompoknya
– Pendamping memberi aturan permainan dan meminta tiap kelompok untuk mengatur strategi supaya kelompoknya dapat memenangkan pertandingan itu.
– Saat bermain, suasana sangat ramai dan berisik, karena dari 2 kelompok tersebut saling berteriak satu sama lain mengatur teman-temannya.
– Pada saat permainan kelas 5 mengalami kalah, karena dari 2 bungkus kado yang harus dibuka, mereka membagi 9 anggotanya menjadi 2 kelompok kecil, jadi untuk membuka satu bungkus kado saja lama karena tenaga hanya sedikit.
– Kelas 4 berstrategi unuk membuka 1 bungkus kado satu persatu bersama-sama jadi waktu pembukaan bungkus kado pun menjadi cepat.
– Tapi dari segi kerapihan membuka bungkus kado poin kelas 5 lebih besar.
– Kelas 5 terpaksa kekurangan 2 anggotanya karena melanggar peraturan yaitu mengganti jari dan menggunakan jari lebih dari 1. Orang yang keluar tersebut diberi hukuman, yaitu menyanyikan lagu sambil bergaya. Semuanya tertawa ketika melihat hukuman itu berlangsung.
– Pada permaianan ini terlihat sebagian kecil karakter dari anak-anak tersebut, ada yang hanya mengatur tapi tidak bergerak, ada yang tidak peduli terhadap jari temannya yang sakit, ada yang serius mengikuti permainan, dsb
6 Permainan Inti
“BEBAS!!!”
(SKLB terlampir) – Peserta diberi instruksi permainan, BEBAS TALI, yaitu memindahkan tali dari satu teman ke teman yang lain, tapi tanpa melepaskan pegangan tangan mereka
– Permainan sangat seru, namun kelas 5 lagi-lagi mengalami kekalahan, dengan alasan teman-mereka tinggi-tinggi. Namun disini dipahamkan bahwa bukan karena mereka fisiknya seperti itu, tapi karena kurang siap dan kurang matang strateginya, dan mereka mau mengerti dan paham bahwa kekalahan mereka adalah karena ketua terpilih tidak tegas, sehingga banyak instruksi yang bermacam-macam dan membuat bingung.
– Setelah Bebas Tali, peserta bermain BEBAS TANGAN. Pendmaping menistruksikan untuk berpegangan tangan secara bersilang, dan mereka harus dapat membalikan badan tanpa melepas pegangan tangan tersebut.
– Pada permainan ini kahirnya kelas 5 berhasil main dengan baik. Dan saat refleksi akhirnya kelas 5 sadar bahwa bekerja sama, mendengarkan ketua, dan terbuka pada teman lainnya membuat mereka menang.
7 Permainan Penutup
“Kapal Karam”
(SKLB terlampir)
– Saat permainan kapal karam, anak diminta berkelompok kecil (terdiri dari 3 orang), yang masing-masing kelompok harus berdiri di atas selembar kertas koran
– Anak diminta menggunakan imajinasinya yang dipandu oleh pembimbing
– Mereka berdiri di atas kapal dan menuju australia, namun karena bertemu gurita raksasa, kapal terbentur, dan pecah, kapal semakin kecil. Saat mendengar kata “kapal semakin kecil” kelompok itu harus turun dan melipat bagian koran seperti yang sudah diinstruksikan pembimbing, dan begitu seterusnya sampai kapal mereka menjadi snagat kecil. Ada beberapa kelompok yang satu anggotanya tidak daapt berdiri lagi dikapal, ada yang saling gendong dan berjinjit, ada juga yang menjadikan kaki teman mereka sebagai pijakan untuk berdiri.
– Pada saat refleksi, sebagian besar mengira permainan ini hanya team work saja, mungkin karena kelelahan setelah bermain. Padahal untuk membantu teman, selama kita masih bisa dan mampu, maka kita harus menolongnya dengan kekuatan yang kita punya.
8 Pengisian Jurnal Kegiatan Setelah kegiatan selesai, anak-anak diminta untuk mengisi jurnal kegiatan mengenai aktifivitas mereka. Setelah itu pembimbing menutup kegiatan dan mengucap kan terima kasih juga foto bersama..

multiplycontent.com/…/makalah%20akhir%20defiiit.docx?