ADA banyak cerita di balik kesuksesan seorang guru dalam mengajar. Salah satu pendukung sukses seorang guru adalah kepandaian dan kreativitas guru tersebut menggunakan media pembelajaran dalam berinteraksi dengan siswa-siswi mereka. Kiki, sebutlah begitu namanya, adalah tipologi guru muda yang disenangi anak didiknya karena selalu atraktif dalam menggunakan media pembelajaran, baik yang sudah tersedia di sekolah, di lingkungan sekolah, maupun di rumah.

Mungkin tak terpikir sebelumnya bagaimana dedaunan kering, koran bekas, pembungkus semen, kaleng dan botol bekas minuman semacam soft drink akan menjadi alat media belajar yang efektif, baik untuk mata ajar fisika, biologi, kimia, dan bahkan sejarah. Pendek kata, media belajar yang digunakan Kiki selain murah juga ramah dengan lingkungan. Jangan ditanya hasilnya, karena para siswa pun menjadi lebih termotivasi untuk belajar secara sederhana, menggunakan media belajar yang ramah lingkungan, serta yang paling penting adalah fun dan tidak membosankan.

Ketika Edu bertanya tentang media belajar yang digunakan Kiki dalam proses belajar-mengajar, jawaban Kiki sungguh di luar dugaan. Kiki seperti memahami benar prosedur pengembangan pembelajaran menurut Gerlach dan Elly, yakni tujuan instruksional diarahkan kepada rumusan tingkah laku yang harus dimiliki oleh siswa setelan selesai mengikuti pembelajaran. Barulah setelah itu Kiki merinci materi pembelajaran yang diharapkan dapat menunjang pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Melakukan tes entering behaviour level untuk mengetahui minat siswa sangatlah penting di mata Kiki, yaitu sebagai cara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran sebagai dasar untuk menentukan dari mana guru harus mengawali pembelajaran.

Selain itu, kemampuan guru dalam merumuskan tujuan, isi, dan entering behaviour level akan menempatkan guru pada posisi yang benar ketika menentukan strategi yang sesuai dengan karakteristik tujuan maupun materi yang diberikan, juga termasuk mengatur dan mengelompokkan siswa. Pengelompokan siswa diselaraskan dengan waktu dan ruang belajar yang tersedia. Menentukan media yang cocok digunakan dalam pembelajaran dapat disesuaikan dengan tujuan, strategi, waktu yang tersedia, dan fasilitas pendukung lainnya. Barulah setelah itu kegiatan pembelajaran diakhiri dengan penilaian terhadap penampilan siswa untuk menentukan umpan balik dan merevisi rencana dan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.

Penting juga bagi para guru mengetahui alasan praktis memilih media tertentu dalam pembelajaran. Alasan praktis tersebut biasanya berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan guru mengapa menggunakan media dalam pembelajaran. Beberapa alasan praktis penggunaan media dalam proses pembelajaran antara lain untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, objek, kegunaan, cara mengoperasikan dan lain-lain. Media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran, seperti seorang guru kimia akan menjelaskan proses perubahan-perubahan zat dengan menggunakan gelas ukur. Sebelum dilakukan praktikum, terlebih dahulu guru tersebut memperagakan bagaimana cara menggunakan gelas ukur dengan baik.

Penggunaan media, bagi beberapa guru, juga memiliki alasan pribadi mengapa mereka menggunakan media, di antaranya adalah karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya. Alasan familiarity tentu saja tidak selamanya tepat, jika tidak memperhatikan tujuannya. Meski demikian, alasan ini cukup banyak terjadi dalam proses pembelajaran. Selain itu alasan kejelasan (clarity) juga menjadi pendorong mengapa guru membutuhkan media pembelajaran.

Yang lebih penting diketahui oleh para guru adalah bahwa penggunaan media harus dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru. Salah satu aspek yang harus diupayakan oleh guru dalam pembelajaran adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental, maupun emosional. Dalam praktiknya guru tidak selamanya mampu membuat siswa aktif hanya dengan cara ceramah, tanya jawab dan lain-lain, namun diperlukan media untuk menarik minat atau gairah belajar siswa. Untuk itulah media pembelajaran yang akan digunakan para guru harus mampu memacu dan memicu terjadinya proses pembelajaran yang aktif (actiie learning). Ahmad Baedowi