Latest Entries »

Berawal dari cari referensi ttg konseling kelompok ketemu artikel ini ya di copy aja sapa tau bermanfaat bwt tmn2 BK jg…..

Mempromosikan Experiential Learning di Grup Konseling
Jeff E. Brooks-Harris, Ph.D. Jeff E. Brooks-Harris, Ph.D.
Counseling and Student Development Center Konseling dan Pusat Pengembangan Siswa
University of Hawai’i at Manoa University of Hawaii at Manoa

Program presented at ACPA / NASPA Joint Convention Program disajikan pada ACPA / NASPA Bersama Konvensi
March 21, 1997, Chicago, Illinois 21 Maret 1997, Chicago, Illinois

David Kolb (1984) proposed a model of experiential learning that describes a cycle of learning which includes concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, and active experimentation. David Kolb (1984) mengusulkan model pengalaman belajar yang menggambarkan siklus pembelajaran yang meliputi pengalaman kongkret, pengamatan reflektif, konseptualisasi abstrak, dan percobaan aktif. These four modes can be used to represent the ends of two continua referred to as perception (anchored by concrete experience and abstract conceptualization) and processing (anchored by active experimentation and reflective observation)(McCarthy, 1980). Keempat mode dapat digunakan untuk mewakili ujung dua continua disebut sebagai persepsi (berlabuh oleh pengalaman konkret dan abstrak konseptualisasi) dan pengolahan (berlabuh oleh percobaan aktif dan observasi reflektif) (McCarthy, 1980). When these two dimensions are arranged as perpendicular axes, four quadrants are created that can describe learning processes and individual learning styles. When this model is applied to group counseling or other interactive learning environments, four types of experiential learning can be identified (See Figure 1). Ketika dua dimensi ini disusun sebagai sumbu tegak lurus, empat kuadran diciptakan yang dapat menggambarkan proses belajar dan gaya belajar masing-masing. Ketika model ini diterapkan ke grup konseling atau lingkungan belajar interaktif lain, empat jenis pengalaman belajar dapat diidentifikasi (Lihat Gambar 1 ). I will be referring to these learning process quadrants as: Reflecting on Experience, Assimilating and Conceptualizing, Experimenting and Practicing and Planning for Application. Saya akan merujuk pada proses belajar ini kuadran sebagai: Merefleksikan Pengalaman, asimilasi dan konseptualisasi, Percobaan dan Berlatih dan Perencanaan untuk Aplikasi. These learning processes will be described next and group counseling techniques that can be used to promote each type of learning will follow. Proses belajar ini akan dijelaskan berikutnya dan konseling kelompok teknik yang dapat digunakan untuk mempromosikan tiap jenis pembelajaran akan mengikuti.

The practicality of applying Kolb’s model of experiential learning to group counseling is threefold. Yang kepraktisan penerapan model Kolb pengalaman belajar kelompok konseling adalah tiga kali lipat. First, this model suggests multiple group learning processes that can occur within a single session rather than focusing on broader processes that occur across the life of the group such as Yalom’s (1985) therapeutic factors. Pertama, model ini menunjukkan kelompok beberapa proses pembelajaran yang dapat terjadi dalam satu sesi daripada berfokus pada proses yang lebih luas yang terjadi di kehidupan kelompok seperti Yalom’s (1985) faktor-faktor terapeutik. Second, by suggesting different types of learning that complete a cycle of learning, this model encourages group facilitators to create comprehensive learning encounters within each group sessions that will impact members more deeply than if only one or two types of learning are emphasized. Kedua, dengan menyarankan berbagai jenis pembelajaran yang melengkapi siklus pembelajaran, model ini kelompok mendorong fasilitator untuk menciptakan pembelajaran yang komprehensif pertemuan dalam sesi masing-masing kelompok anggota yang akan berdampak lebih dalam daripada jika hanya satu atau dua tipe belajar ditekankan. Third, by emphasizing the need to create different types of learning within group counseling, the group is more likely to meet the primary learning needs of individuals with different learning styles. Ketiga, dengan menekankan kebutuhan untuk menciptakan berbagai jenis kelompok belajar dalam konseling, kelompok lebih mungkin untuk memenuhi kebutuhan belajar primer individu dengan gaya belajar yang berbeda.

1. Reflecting on Experience calls upon learners to recall their own experience related to current learning. 1. Merefleksikan Pengalaman menyerukan kepada peserta didik untuk mengingat pengalaman mereka sendiri berkaitan dengan pembelajaran saat ini. This activates the knowledge a learner already possesses and increases attention and motivation for new learning. Ini akan mengaktifkan pengetahuan seorang pelajar sudah memiliki dan meningkatkan perhatian dan motivasi untuk belajar baru. This learning process builds a bridge from the past to the current learning environment. Proses belajar membangun sebuah jembatan dari masa lalu ke lingkungan belajar saat ini. Reflecting on experience is expected to result in recognition of universality and instillation of hope (Yalom, 1985). Merenungkan pengalaman diharapkan menghasilkan pengakuan terhadap universalitas dan pembangkitan berangsur-angsur harapan (Yalom, 1985).

a. Sharing by Members – Members are encouraged to share about either recent events or past struggles that continue to impact them. Example : Start the group with a check-in and have members report about their weeks, paying particular attention to following up on any plans for action that were made the past week. a. Berbagi oleh Anggota – Anggota didorong untuk berbagi tentang kejadian-kejadian atau baik baru-baru ini perjuangan masa lalu yang terus mempengaruhi mereka. Contoh: Buat kelompok dengan check-in dan memiliki laporan anggota minggu mereka, memberikan perhatian khusus untuk menindaklanjuti setiap rencana aksi yang dibuat seminggu terakhir.

b. Identification of Theme – It is often helpful for the group facilitator to identify the theme that one or more group members are exploring. b. Identifikasi Theme – Hal ini sering membantu bagi fasilitator kelompok untuk mengidentifikasi tema yang satu atau lebih anggota kelompok mengeksplorasi. This encourages the recognition of similarity or universality. Example : Common themes that come up in groups that can be highlighted by a facilitator include social isolation, self-doubts, unrecognized or unexpressed feelings, self-defeating thoughts or behaviors, or unfulfilled hopes or dreams. Hal ini mendorong pengakuan kesamaan atau universalitas. Contoh: common tema yang muncul dalam kelompok-kelompok yang dapat disorot oleh seorang fasilitator meliputi isolasi sosial, keraguan diri, dikenali atau perasaan terpendam, pikiran yang merugikan diri sendiri atau perilaku, atau tidak puas harapan atau impian .

c. Recognition of Similarity – As one group member shares, others are encouraged to reflect on times when they have had similar experiences, thoughts or feelings. Technique : “Reflect Around” As one member shares about feeling socially isolated, the facilitator asks other group members to think about and verbally identify times when they have each felt isolated. Technique: “Group Survey” The facilitator asks group members to raise their hand to indicate whether they have shared a common experience. c. Pengakuan Kesamaan – Sebagai salah satu anggota kelompok saham, yang lain didorong untuk bercermin pada saat-saat ketika mereka memiliki pengalaman yang sama, pikiran atau perasaan. Teknik: “Refleksikan Around” Sebagai salah satu saham anggota tentang perasaan terisolasi secara sosial, fasilitator akan meminta kelompok lain anggota untuk memikirkan dan mengidentifikasi secara lisan saat-saat ketika mereka masing-masing merasa terisolasi. Teknik: “Kelompok Survey” Fasilitator meminta anggota kelompok untuk mengangkat tangan mereka untuk menunjukkan apakah mereka telah berbagi pengalaman yang umum. For example, after one group member shares about fear of failure, group members are asked how many others have secretly feared that they would not succeed. Misalnya, setelah satu anggota grup saham tentang rasa takut gagal, anggota kelompok ditanya berapa banyak orang lain telah diam-diam takut bahwa mereka tidak akan berhasil.

2. Assimilating and Conceptualizing 2. Asimilasi dan konseptualisasi provides learners with new information, theories or concepts and encourages learners to apply this knowledge to their own life experience. menyediakan peserta didik dengan informasi baru, teori-teori atau konsep dan mendorong peserta didik untuk menerapkan pengetahuan ini untuk pengalaman hidup mereka sendiri. There is a reciprocal process in which the new concepts enhance a learner’s self understanding and the process of comparing the concepts to oneself helps a learner understand the concepts more deeply. Ada proses timbal balik di mana konsep-konsep baru seorang pelajar meningkatkan pemahaman diri dan proses membandingkan konsep diri membantu pelajar memahami konsep-konsep yang lebih mendalam. This learning process builds a bridge between theoretical concepts and individual experience. Assimilating and conceptualizing is similar to Yalom’s (1985) therapeutic factor of imparting information. Proses belajar membangun jembatan antara konsep teoretis dan pengalaman individu. Asimilasi dan konseptualisasi mirip dengan Yalom’s (1985) faktor terapeutik menyampaikan informasi.

a. Learning from other Group Members – An individual can ask for input from other group members that may include advice, suggestions or resources. Example : When discussing separation from parents, a group member asks for suggestions about setting appropriate limits. a. Belajar dari Anggota Kelompok lain – Seorang individu dapat meminta masukan dari anggota kelompok lain yang mungkin mencakup nasihat, saran atau sumber daya. Contoh: Ketika membahas pemisahan dari orangtua, seorang anggota kelompok meminta saran tentang pengaturan batas-batas yang tepat.

b. Conceptual Template – A facilitator may suggest the use of concepts, categories or language that may help clarify group content. Example : If one or more group members are expressing a desire not to let themselves be pushed around, it may be helpful for the facilitator to talk about and define the concepts of passive, aggressive and assertive behavior. b. konseptual Templat – Seorang fasilitator dapat menyarankan penggunaan konsep-konsep, kategori atau bahasa yang dapat membantu menjelaskan konten grup. Contoh: Jika satu atau lebih anggota kelompok menyatakan keinginan untuk tidak membiarkan diri mereka dipermainkan, mungkin akan bermanfaat bagi fasilitator untuk membicarakan dan menentukan konsep pasif, agresif dan perilaku asertif.

3. Experimenting and Practicing allows learners to try new behaviors and practice new skills within the context of a supportive learning environment. 3. Percobaan dan Berlatih memungkinkan pembelajar untuk mencoba perilaku baru dan praktek keterampilan baru dalam konteks lingkungan yang menunjang pembelajaran. There is also the opportunity for suggestions and feedback from other learners. This learning process builds a bridge from abstract ideas to specific behaviors. Ada juga kesempatan untuk saran dan umpan balik dari pelajar lain. Ini proses belajar membangun sebuah jembatan dari ide abstrak perilaku tertentu. Experimenting and practicing is related to several of Yalom’s (1985) therapeutic factors including development of socializing techniques, imitative behavior, catharsis and interpersonal learning. Bereksperimen dan berlatih terkait dengan beberapa Yalom’s (1985) faktor-faktor terapeutik termasuk pengembangan teknik sosialisasi, meniru perilaku, katarsis dan interpersonal belajar.

a. Experiments within Group – A group member is encouraged to try new behavior within the group that they may not usually display. Example : A group member who has a hard time giving compliments is encouraged to go around the group and tell each other member something that they like or appreciate. a. Percobaan dalam Grup – Grup anggota didorong untuk mencoba perilaku baru dalam kelompok yang mereka biasanya tidak ditampilkan. Contoh: Seorang anggota kelompok yang memiliki waktu sulit memberi pujian didorong untuk pergi di sekitar kelompok dan anggota saling menceritakan sesuatu bahwa mereka menyukai atau menghargai.

b. Role Playing – In preparing for new behavior outside the group, a group member uses other members to rehearse and to generate ideas to be used in the future. Example : A group member who is anxious about asking someone out on a date has a chance to practice what to say with another member playing the role of the potential date. b. Role Playing – Dalam mempersiapkan perilaku baru di luar kelompok, seorang anggota kelompok menggunakan anggota lain untuk melatih dan menghasilkan ide-ide untuk digunakan di masa depan. Contoh: Seorang anggota grup yang cemas akan meminta seseorang berkencan memiliki kesempatan untuk mempraktekkan apa yang harus dikatakan dengan anggota lain memainkan peran tanggal potensial. Other group members can provide feedback or suggestions. Anggota kelompok lain dapat memberikan umpan balik atau saran.

c. Psychodramatic Experiments – A group member may act out past conflicts or a symbolic representation of internal conflicts. Example : A group member confronts his dead mother and tells her that he can no longer actively grieve her and that he must move on with his life. c. Psychodramatic Percobaan – Seorang anggota kelompok dapat bertindak keluar melewati konflik atau representasi simbolis konflik internal. Contoh: Seorang anggota grup menghadapi almarhum ibu dan mengatakan kepadanya bahwa ia tidak dapat lagi secara aktif bersedih hati padanya dan ia harus melanjutkan hidupnya .

4. Planning for Application identifies areas of personal relevance and encourages learners to prepare for the transition from the group learning environment to real life. Specificity of planning increases the likelihood of transfer of learning. 4. Perencanaan untuk mengidentifikasi area Aplikasi relevansi pribadi dan mendorong peserta didik untuk mempersiapkan transisi dari kelompok lingkungan belajar kehidupan nyata. Kespesifikan perencanaan meningkatkan kemungkinan transfer belajar. This learning process builds a bridge from the group to concrete experience in the future. Proses belajar membangun sebuah jembatan dari kelompok pengalaman konkret di masa mendatang. Planning for application increases the likelihood that interpersonal learning will be generalized outside of the group. Aplikasi perencanaan untuk meningkatkan kemungkinan antarpribadi akan belajar umum di luar kelompok.

a. Generalizing and Applying – Group members identify areas where the things discussed in group can be generalized and applied. Example : After talking about ways of controlling anger, members identify areas where each method would be most helpful. a. generalisasi dan Penerapan – Anggota grup mengidentifikasi daerah-daerah di mana hal-hal yang dibahas dalam grup dapat digeneralisasi dan diterapkan. Contoh: Setelah berbicara tentang cara-cara mengendalikan amarah, anggota mengidentifikasi daerah-daerah di mana masing-masing metode akan sangat membantu.

b. Planning for Action – Group members make specific plans for changes they will make as a result of learning in group. Example : After talking about friendship development, each group member shares one thing they plan to do to reach out to a friend during the coming week. b. Perencanaan Aksi – Anggota grup membuat rencana khusus untuk perubahan yang mereka akan membuat sebagai hasil pembelajaran dalam grup. Contoh: Setelah berbicara tentang pembangunan persahabatan, masing-masing anggota kelompok saham satu hal mereka berencana lakukan untuk menjangkau teman selama minggu depan.

Case Example Contoh Kasus

I have found the application of Kolb’s model of experiential learning to group counseling to be a useful guide to strategies that can occur within a single group counseling session. Saya telah menemukan penerapan model Kolb pengalaman belajar kelompok konseling untuk menjadi panduan yang berguna untuk strategi yang dapat terjadi dalam satu sesi konseling kelompok. The following is a recent example of a group session in which my co-facilitator and I were able to promote all four experiential learning processes in one session: Berikut ini adalah contoh baru-baru ini pertemuan kelompok di mana rekan-fasilitator dan saya bisa mempromosikan semua pengalaman empat proses pembelajaran dalam satu sesi:

Reflecting on Experience Merenungkan Pengalaman

Identification of Theme . Identifikasi Theme. During the second session of a men’s counseling group, two members mentioned concerns related to anger at check-in. Selama sesi kedua dari kelompok konseling laki-laki, dua anggota keprihatinan disebutkan berkaitan dengan kemarahan di check-in. After one member had described a recent experience, anger was identified as a common theme by one of the facilitators. Setelah satu anggota telah menggambarkan pengalaman baru-baru ini, kemarahan diidentifikasi sebagai tema umum oleh salah seorang fasilitator. This theme was described in a way that optimized the universality of the emotion while recognizing that different situations or events will lead to anger for different members and that methods of expression would also differ. Tema ini digambarkan dengan cara yang dioptimalkan universalitas emosi seraya mengakui bahwa situasi atau kejadian yang berbeda akan mengarah pada kemarahan untuk berbagai anggota dan metode ekspresi yang juga akan berbeda.

Reflect Around . Mencerminkan Sekitar. After the theme was identified, one of the facilitators asked the group members to go around the circle and each identify things that most frequently make them angry. Commonalties within the theme were identified before focusing again on concerns of individual group members. Setelah tema diidentifikasi, salah satu fasilitator meminta anggota kelompok untuk pergi mengelilingi lingkaran dan masing-masing mengidentifikasi hal-hal yang paling sering membuat mereka marah. Commonalties dalam tema telah teridentifikasi sebelum berfokus lagi pada keprihatinan anggota kelompok individu.

Assimilating and Conceptualizing Asimilasi dan konseptualisasi

Conceptual Template . Konseptual Template. After one member had talked about how anger sometimes is a response to fear, one of the facilitators described the pattern in which men frequently experience or express anger in place of more vulnerable emotions such as fear or sadness. Setelah salah satu anggota telah berbicara tentang bagaimana kemarahan kadang-kadang adalah respons terhadap rasa takut, salah satu fasilitator menggambarkan pola di mana laki-laki sering mengalami atau mengekspresikan kemarahan di tempat yang lebih rentan emosi seperti rasa takut atau kesedihan. After suggesting this conceptual template, the facilitator suggested another reflect around during which group members disclosed whether this pattern was true for them and described the types of vulnerable emotions that were frequently masked by anger. Setelah meminta template konseptual ini, disarankan fasilitator lain yang mencerminkan seluruh anggota kelompok selama diungkapkan apakah pola ini benar bagi mereka dan menggambarkan jenis emosi rentan yang sering disembunyikan oleh kemarahan.

Experimenting and Practicing Bereksperimen dan Berlatih

Role Playing . Role Playing. One member of the group described a recent situation in which he felt afraid but responded with anger and swearing. Salah satu anggota kelompok baru-baru ini menggambarkan sebuah situasi di mana ia merasa takut, tetapi menanggapi dengan marah dan bersumpah. This member was asked by one of the facilitators if he would like to participate in an experiment in which he would get a chance to replay the situation the way he would like to have behaved. Anggota ini diminta oleh salah satu fasilitator jika ia ingin berpartisipasi dalam percobaan di mana ia akan mendapatkan kesempatan untuk memutar ulang situasi caranya mau bersikap. The member was encouraged to choose two other group members as actors to play the roles of others in the situation. The member then acted out the scene in a new way allowing him to experiment with new ways of behaving and practice this behavior in a supportive environment. Anggota didorong untuk memilih dua anggota kelompok lainnya sebagai aktor untuk memainkan peran orang lain dalam situasi tersebut. Anggota kemudian bertindak keluar adegan di dalam cara baru yang memungkinkan dia untuk bereksperimen dengan cara-cara baru dalam bersikap dan praktek perilaku ini dalam lingkungan yang mendukung . When the member felt stuck, the facilitators encouraged him to ask for suggestions from the group. Ketika anggota merasa terjebak, fasilitator mendorongnya untuk meminta saran dari kelompok. Feedback from group members was encouraged after the role play. Umpan balik dari anggota kelompok didorong setelah permainan peran.

Planning for Application Aplikasi perencanaan

Action Plan . Rencana Aksi. At the end of the group, members were encouraged to set personal goals regarding the way they would like to deal with anger and other emotions during the coming week. Pada akhir kelompok, anggota didorong untuk menetapkan tujuan-tujuan pribadi mengenai cara mereka ingin menghadapi kemarahan dan emosi lain pada minggu mendatang. At check-in the following week, group members were given the opportunity to update the group on how well they accomplished their goals. Check-in di minggu berikutnya, anggota kelompok diberi kesempatan untuk memperbarui grup pada seberapa baik mereka capai tujuan mereka.

References Referensi

Kolb, DA (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development . Kolb, DA (1984). Experiential learning: Pengalaman sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

McCarthy, B. (1980). The 4MAT System: Teaching to Learning Styles with Right / Left Mode Techniques . McCarthy, B. (1980). The 4MAT Sistem: Styles Belajar Mengajar dengan Kanan / Kiri Mode Teknik. Barrington, IL: Excel, Inc. Barrington, IL: Excel, Inc

Yalom, ID (1985). The theory and practice of group psychotherapy . Yalom, ID (1985). Teori dan praktek psikoterapi kelompok. (3rd ed.) New York: Basic Books. (3rd ed.) New York: Basic Books.
Promoting Experiential Learning in Group Counseling Mempromosikan Experiential Learning di Grup Konseling
Action Plan Rencana

1. 1. Please reflect on the groups you have facilitated in the past and estimate the proportion of time and energy that your groups typically spend on each of the following learning processes (the total should equal 100%): Silakan bercermin pada grup yang telah memfasilitasi di masa lalu dan memperkirakan proporsi waktu dan energi yang biasanya menghabiskan kelompok Anda pada masing-masing proses pembelajaran berikut (total harus sama dengan 100%):

_____ % Reflecting on Experience _____% Merefleksikan Pengalaman

_____ % Assimilating and Conceptualizing _____% Asimilasi dan konseptualisasi

_____ % Experimenting and Practicing _____% Percobaan dan Berlatih

_____ % Planning for Application _____% Perencanaan untuk Aplikasi

_____ % Other: _____________________ _____% Lain-lain: _____________________

2. 2. Ideally, I would like my groups to focus on different types of learning in the following proportion (the total should equal 100%): Idealnya, saya ingin kelompok saya untuk fokus pada tipe belajar yang berbeda dalam proporsi berikut (total harus sama dengan 100%):

_____ % Reflecting on Experience _____% Merefleksikan Pengalaman

_____ % Assimilating and Conceptualizing _____% Asimilasi dan konseptualisasi

_____ % Experimenting and Practicing _____% Percobaan dan Berlatih

_____ % Planning for Application _____% Perencanaan untuk Aplikasi

_____ % Other: _____________________ _____% Lain-lain: _____________________

3. 3. For each of the techniques discussed today please mark each with one of the following letters indicating your plan (or lack of plan) to use the technique in the future: Untuk masing-masing dari teknik-teknik yang dibahas hari ini silakan tandai masing-masing dengan salah satu dari surat-surat berikut ini menunjukkan rencana Anda (atau kurangnya rencana) untuk menggunakan teknik di masa depan:

C – Continue to use technique at current level C – Lanjutkan untuk menggunakan teknik di tingkat saat

A – Add this technique to my repertoire A – Tambahkan teknik ini untuk saya repertoar

I – Increase my use of this technique Aku – Tingkatkan saya menggunakan teknik ini

X – Not interested in using this technique X – Tidak tertarik menggunakan teknik ini

1. 1. Reflecting on Experience Merenungkan Pengalaman

_____ a. _____ A. Sharing by Members Sharing oleh Anggota

_____ b. _____ B. Identification of Theme Identifikasi Theme

_____ c. _____ C. Recognition of Similarity Pengakuan Kesamaan

_____ “Reflect Around” _____ “Merefleksikan Around”

_____ “Group Survey” _____ “Grup Survey”

2. 2. Assimilating & Conceptualizing Asimilasi & mengkonseptualisasikan

_____ a. _____ A. Learning from other Group Members Belajar dari Group lain Anggota

_____ b. _____ B. Conceptual Template Konseptual Template

3. 3. Experimenting & Practicing Bereksperimen & Berlatih

_____ a. _____ A. Experiments within Group Percobaan dalam Grup

_____ b. _____ B. Role Playing Role Playing

_____ c. _____ C. Psychodramatic Experiments Psychodramatic Percobaan

4. 4. Planning for Application Aplikasi perencanaan

_____ a. _____ A. Generalizing and Applying Generalisasi dan Menerapkan

_____ b. _____ B. Planning for Action Perencanaan Aksi

http://www2.hawaii.edu/~jharris/groupcouns.html View full article »

Buku Psikologi Konseling

Buat rekan2 yang banyak tugas kuliah butuh referensi ttg psikologi konseling bisa beli buku ini bagus deh…..so mau tau apa isinya simak aja daftar isi dibawah ini:
Judul : Psikologi Konseling (Cet.VI)
jenis : Psikologi
Pengarang : Latipun
Jumlah Halaman : 270
Kode Buku : MK.03.00.24
Tahun Terbit : 2003
Harga Awal : 42000
Harga Diskon : 31500
Bonus : –

Tenaga profesional, khususnya yang menjalankan tugas-tugas memberikan bantuan (helping relationship) seperti konselor, psikolog dan pekerja sosial sangat membutuhkan pengetahuan dasar yang berhubungan dengan tugasnya. Pengetahuan dasar tersebut baik yang berupa dasar-dasar keahlian maupun yang berhubungan dengan penguasaan keterampilan. Buku ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi mahasiswa maupun masyarakat dalam pengembangan ilmu dan peningkatan kemampuan profesionalnya.

Adapun pembahasan perbab sebagai berikut:

Bagian Pertama

KONSEP DASAR KONSELING

BAB I MEMAHAMI MAKNA KONSELING

1. Pengertian Konseling
2. Beberapa Kesalahan pengertian
3. Konseling, Psikoterapi dan Intervensi Psikososial
4. Asumsi-Asumsi Dasar Konseling

BAB II PERKEMBANGAN PSIKOLOGI KONSELING

1. Cikal Bakal Perkembangan Konseling
2. Pendorong Perkembangan Konseling
3. Perkembangan Konseling di Indonesia
4. Profesionalisme Konseling
5. Konseling dan Ilmu-Ilmu Lain
6. Konseling di Berbagai Institusi dan Sasaran

BABIII KONSELING SEBAGAI HUBUNGAN MEMBANTU

1. Pengertian Hubungan Membantu
2. Karakteristik Hubungan Konseling
3. Tujuan Konseling
4. Kondisi Hubungan Konseling
5. Aspek Konselor dalam Hubungan Konseling
6. Aspek Klien dalam Hubungan Konseling

Bagian Kedua

PENDEKATAN-PENDEKATAN PSIKOLOGI KONSELING

BAB IV KONSELING PSIKOANALITIS

1. Teori Kperibadian
2. Hakikat Manusia
3. Perilaku Bermasalah
4. Tujuan Konseling
5. Hubungan Konseling
6. Tahapan Konseling
7. Teknik Spesifik

BAB V KONSELING BERPUSAT PADA PERSON

1. Teori Kepribadian
2. Hakikat Manusia
3. Perilaku Bemasalah
4. Prinsip-Prinsip Konseling
5. Tujuan Konseling
6. Kondisi Konseling dan Peran Konselor
7. Tahapan Konseling

BAB VI KONSELING RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR

1. Teori Kepribadian
2. Perilaku Bermasalah
3. Karakteristik Keyakinan yang Irrasional
4. Hakikat Manusia
5. Tujuan Konseling
6. Tahapan Konseling
7. Peranan Konselor
8. Aplikasi Konseling

BAB VII KONSELING BEHAVIORAL

1. Teori Kepribadian
2. Perilaku Bermasalah
3. Tujuan Konseling
4. Prosedur Konseling
5. Peranan Konselor
6. Teknik Spesifik
7. Aplikasi Konseling

BAB VIII KONSELING REALITAS

1. Teori Kepribadian
2. Perilaku Bermasalah
3. Hakikat Manusia
4. Tujuan Konseling
5. Prosedur Konseling
6. Peranan Konselor

BAB IX KONSELING ELEKTIK

1. Perbandingan Elektik dengan Pendekatan Lain
2. Teori Kepribadian
3. Asumsi Konseling
4. Tujuan Konseling
5. Strategi Konseling
6. Tahapan Konseling
7. Peranan Konselor

Bagian Ketiga

KONSELING DAN KELOMPOK

BAB X KONSELING KELOMPOK

1. Pengertian Konseling Kelompok
2. Beberapa Pendekatan Kelompok
3. Tujuan Konseling
4. Manfaat dan Keterbatasan Konseling Kelompok
5. Struktur dalam Konseling Kelompok
6. Tahapan Konseling Kelompok
7. Faktor Kuratif
8. Konselor, Ko-Konselordan Klien
9. Proses Kelompok dan Perilaku Anggota
10. Interaksi dalam Kelompok

BAB XI KONSELING KELUARGA

1. Pengertian Konseling Keluarga
2. Masalah-Masalah Keluarga
3. Pendekatan Konseling Keluarga
4. Tujuan Konseling Keluarga
5. Bentuk Konseling Keluarga
6. Peranan Konselor
7. Proses dan Tahapan Konseling Keluarga
8. Kesalahan Umum dalam Konseling Keluarga

BAB XII KONSELING PERKAWINAN DAN PRANIKAH

1. Pengertian
2. Perbandingan Konseling Perkawinan dan Keluarga
3. Permasalahan Perkawinan
4. Tujuan Konseling Perkawinan
5. Asumsi-Asumsi Konseling Perkawinan
6. Tipe-Tipe Konseling Perkawinan
7. Peranan Konselor
8. Langkah-Langkah Konseling
9. Kesulitan dan Keuntungan Konseling Perkawinan
10. Konseling Pranikah
11. Aspek yang Perlu Diasesmen
12. Prosedur Konseling Pranikah

Bagian Keempat

PERSOALAN-PERSOALAN PROFESIONAL

BAB XIII KEYAKINAN, NILAI DAN ETIKA DALAM KONSELING

1. Agama dan Keyakinan dalam Konseling
2. Nilai-Nilai Konselor dan Klien
3. Perilaku dan Pribadi Konselor
4. Etika Profesional Konseling
5. Konfidensialitas
6. Kompetensi Konselor

BAB XIV RISET DAN PENGUKURAN KONSELING

1. Klasifikasi Riset Konseling
2. Perubahan Klien
3. Desain Penelitian
4. Pengukuran Hasil Konseling
5. Analisis Hasil Pengukuran
6. Faktor yang Berpengaruh pada Keberhasilan Konseling
7. Kasus: Riset Konseling Kelompok dan Perubahan Perilaku Antisosial
8. Pembahasan

Cara Mengelolah PAKEM

Mau tau cara mengelolah pakem kunjugi alamat web dibawah ini met belajar:
http://www.mgp-be.depdiknas.go.id/cms/upload/publikasi/m02u07.pdf

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keunikan kepribadian seorang anak membuat kita sebagai orang dewasa harus benar-benar paham akan bagaimana cara untuk memahami seorang anak. Setiap anak berbeda baik dari segi kemampuan hingga kelemahan yang dimilikinya dan hal itu merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk menjadi bekal hidupnya kelak. Berhubungan dengan anak sebagai pribadi yang unik, maka setiap pribadi pasti memiliki masalah, tidak terkecuali seorang anak. Masalah-masalah tersebut adalah yang berhubungan dengan aspek belajar, sosial, maupun dirinya sendiri, baik di lingkungan keluarga dimana ia tumbuh dan berkembang maupun di lingkungan sekolah yang merupakan instansi ke dua bagi anak untuk menghabiskan waktunya sehari-hari.
Anak sebagai peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang unik, sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan mempunyai berbagai macam kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada diri anak senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Hal tersebut merupakan aspek-aspek psikologis dalam pendidikan yang bersumber dari dalam diri anak sehingga menuntut adanya pendekatan psikologis untuk memfasilitasi perkembangan anak tersebut.
Oleh karena itu, bimbingan konseling memiliki andil yang sangat besar dalam membantu setiap peserta didik agar dapat mandiri dan dapat berkembang secara optimal, dan dalam hal permasalahan dalam belajar siswa, bimbingan konseling turut berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan. Namun, masih sangat dirasakan bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk anak agak sulit. Disamping melihat dari segi kematangannya, konselor juga harus ingat bahwa anak memiliki karakteristik khusus maka dalam pemberian layanan pun harus disesuaikan.
Bimbingan dan konseling kelompok, merupakan wahana efektif yang bisa menjadi pilihan konselor untuk memberi layanan bimbingan konseling pada anak. Anak-anak sering berinteraksi dengan lingkungan, dan anak-anak juga biasanya menghabiskan banyak waktu dengan saling berinteraksi dalam kelompok, maka diperlukan pengaturan ideal untuk menempatkan bimbingan sebagai media informasi atau bisa juga pencegahan dan konseling sebagai peran kuratifnya agar anak dapat berinteraksi dengan baik . (Campbell, 1993; Gumaer, 1984)dan menyesuaikan diri dengan baik pula dalam rangka menguasai tugas perkembangannya. Hal-Hal paling mendasar yang mendasari prinsip berhadapan dengan anak-anak dalam kelompok adalah pada lingkungan alami masa kanak-kanak dan penyesuaian terhadap karakteristik dan masalah anak.
Di Sekolah Dasar dan Sekolah menengah (di mana kebanyakan anak-anak usianya di bawah 14 tahun), bimbingan kelompok digunakan untuk membantu anak-anak tidak hanya mempelajari keterampilan baru tetapi juga memiliki kesadaran akan nilai-nilai, prioritas, dan masyarakat. Kelompok kecil memberi anak untuk ” menyelidiki dan membahas lingkungan sosial dan tantangan emosional dengan orang lain yang sedang mengalami perasaan yang sama” (Campbell& Bowman, 1993, p. 1;3). Sebagai Contoh, konseling kelompok diberikan kepada anak-anak yang mempunyai life-event khusus yang berhubungan seperti kerugian dari orangtua akibat perceraian (Gwynn dan Brantley, 1987; Yaumann, 1991) atau tidak berhasil dalam nilai/kelas (Boutwell& Myrick, 1992). Konseling kelompok juga untuk anak-anak yang mempunyai permasalahan perilaku ” seperti perkelahian yang berlebihan, ketidak-mampuan untuk bergaul akrab, ledakan yang kejam, kelelahan yang kronis, ketiadaan pengawasan di rumah, dan melalaikan penampilan” (Corey, 1990, p. 9).
Dalam pelaksanaannya bimbingan konseling kelompok anak memang memerlukan keterampilan khusus, namun, yang lebih sering digunakan dan populer adalah menggunakan konseling bermain, brain gym, atau teknik exercise-exercise ringan. Movement exercise menjadi pilihan penulis untuk memberikan bimbingan dan konseling kelompok pada anak, mengingat karakteristik anak yang aktif dan banyak bergerak, maka movement exercise ini dimungkinkan agar anak menikmati dan berperan aktif dalam proses bimbingan dan konseling kelompok ini.
B. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari praktik movement exercise pada anak Sekolah Dasar ini, antara lain :
1. Mengetahui proses pelaksanaan dari movement exercise sebagai salah satu teknik dalam bimbingan konseling kelompok
2. Mengetahui tingkat keterlibatan anak (siswa SDIT PERSIS Ciganitri) dalam bimbingan konseling kelompok yang menggunakan teknik movement exercise
3. Mengetahui tingkat keberhasilan bimbingan dan konseling kelompok yang menggunakan movement exercise dalam mencapai tujuan bimbingan konseling yang ingin dicapai, yaitu untuk saling menghargai teman, memahami dan mengetahui kelemahan dan kelebihan diri.
4. Mengetahui kecocokan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok anak di SDIT PERSIS Ciganitri
C. Sasaran Praktikum
Adapun sasaran dari penggunaan teknik movement exercise dalam bimbingan konseling kelompok adalah siswa-siswa dari kelas tinggi :3, 4, dan 5 Sekolah Dasar Islam Terpadu Persatuan Islam Ciganitri Bandung.
D. Tempat dan Waktu Kegiatan
Kegiatan bimbingah konseling kelompok dengan mengyunakan teknik movement exercise ini adalah di lapangan Pesantren Persatuan Islam no. 84 Ciganitri Bandung, dan dilaksanakan pada Hari Rabu, tanggal 4 Juni 2008, pukul 11.00 setelah siswa pulang sekolah.
E. Sistematika Penulisan Laporan
Penyusunan Laporan ini disajikan dalam 4 (empat) bab yang terdiri dari :
1. Bab I Pendahuluan. (Latar Belakang, Tujuan Kegiatan, Sasaran Kegiatan, tempat dan waktu kegiatan serta Sistematika Penulisan Laporan)
2. Bab II Landasan Teoritis
3. Bab III Deskripsi Kegiatan
4. Bab IV Kesimpulan
Daftar Literatur

BAB II
LANDASAN TEORITIS
Konseling Kelompok Anak Dengan Teknik Movement Exercise

A. Definisi Anak
Permulaan masa anak-anak sering ditandai dengan masuknya anak ke sekolah (SD kelas 1). Pada masa ini anak mulai keluar dari lingkungan pertamanya yaitu keluarga, dan mulai memasuki lingkungan sekolah. Hurlock (1980, 149-166) menyatakan bahwa ada tiga ciri utama pada masa ini (masa sekolah) yang mampu menunjukan perbedaan dengan masa sebelumnya (prasekolah), antara lain:
1. Dorongan anak untuk masuk ke dalam dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan otot-otot.
2. Dorongan anak untuk keluar dari lingkungan rumah dan masuk ke dalam kelompok teman sebaya (peer group).
3. Dorongan mental untuk mematuhi dunia konsep-konsep logika, simbol, dan komunikasi secara dewasa.
Sebutan anak dalam dimensi perkembangan diberikan kepada individu yang berusia 1 sampai dengan 11 tahun. Hurlock memberikan sebutan anak terbagi dalam dua kelompok yaitu kanak-kanak dan anak. Kanak-kanak adalah individu dalam rentang usia 1-5 tahun dan anak adalah individu pada rentang 5-11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu berusia 4 sampai 8 tahun dan anak untu yang berusia 8 hingga 11 tahun. Sebutan lain yang digunakan oleh Bredekamp adalah anak usia dini bagi individu dibawah 18 tahun, sehingga di dalamnya termasuk bayi, anak dan remaja awal.
Pada konteks kelompok dan konseling kelompok menurut Yalom, anak adalah kelompok individu di bawah 14 tahun, atau individu pada pendidikan Sekolah Dasar dan sekolah lanjutan pertama. Gadza secara spesifik membagi kelompok anak dalam kelompok Taman Kanak-kanak dan kelas rendah Sekolah Dasar, yaitu individu berusia 5 hingga 9 tahun atau anak-anak dalam usia dini serta kelompok pra-remaja atau remaja awal, yaitu individu yang berusia 9 hingga 13 tahun. Konseling kelompok dapat dilakukan pada anak nusia 3 hingga 4 tahun atau anak yang sudah mencapai kematangan dalam bersosialisasi.
Selain kematangan dalam bersosialisasi ada beberapa tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh anak usia sekolah dasar, dan terpenuhinya tugas-tugas perkembangan itu akan membuat anak dapat bertindak wajar sesuai dengan tingkat usianya. Adapun tugas perkembangan anak usia sekolah dasar menurut Havighurts adalah :
1) Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
2) Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis.
3) Belajar bergaul dan meyesuaikan diri dengan teman sebaya.
4) Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
5) Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
6) Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
7) Mengembangkan kata hati.
8) Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
9) Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.

B. Karakteristik Anak pada Kelas Tinggi (9-13 tahun)
1. Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
a) Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret
b) Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar
c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus
d) Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya
e) Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
f) Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.

2. Karakteristik Perkembangan Motorik dan Fisik
Perkembangan motorik anak lebih terkoordinasi terutama dengan tangan, kaki dan mata. Siap mempelajari dan terlibat aktif dalam berbagai keterampilan dan bermain olah raga formal seperti senam, renang, sepak-bola dan permainan yang menggunakan alat Bantu. Keterampilan motorik kasar lebih dikuasai anak laki-laki, sementara anak perempuan lebih menguasai keterampilan motorik halus. Perkembangan motorik yang makin baik dan beragam memungkinkan anak mengenal dunia secara fisik maupun simbolik secara lebih luas.
Kegiatan fisik penting bagi anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan serta upaya mengontrol dan mengekspresikan kekuatan fisik. Keterlibatan dalam aktivitas fisik mendorong p[ertumbuhan rasa aman, memperoleh tempat dalam kelompok teman sebaya dan konsep diri yang positif. Aktivitas fisik merupakan hal utama bagi pertumbuhan kognitif secara baik. Anak membutuhkan kegiatan fisik untuk membantu memahami berbagai konsep abstrak, seperti orang dewasa memerlukan contoh dan ilustrasi untuk memahami konsep yang tidak diketahui. Anak tergantung secara total terhadap pengalaman pertama menangani sesuatu hal bagi perkembangan kognitif pada tahap yang lebih tinggi.
Keterampilan fisik yang mendasar harus dikembangkan secara terus menerus selama masa sekolah sebagai respon terhadap minat, sikap fisik, pengalaman hidup anak, serta harapan orang lain. Anak menggunakan keterampilan dalam berbagi situasi kompleks pada saat bermain. Memfasilitasi anak bermain berarti memberi kesempatan penting yang diperlukan dalam kehidupan.
3. Karakteristik Perkembangan Kognitif (Tahap konkret-operasional)
Periode ini ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.
4. Karakteristik Perkembangan sosial
Krech et. al, 1962 (dalam Akhmad Sudrajat, 2006) mengemukan bahwa untuk memahami perilaku sosial individu, dapat dilihat dari ciri-ciri respons interpersonalnya, yang dibagi ke dalam tiga kategori :
1) Kecenderungan peranan (role disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang merujuk kepada tugas dan kewajiban dari posisi tertentu.
2) Kecenderungan sosiometrik (sociometric disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang bertalian dengan kesukaan, kepercayaan terhadap individu lain.
3) Kecenderungan ekspresif (expressive disposition); ciri-ciri respons interpersonal yang bertautan dengan ekspresi diri, dengan menampilkan kebiasaan-kebiasaan khasnya (particular fashion).
Sementara itu, Buhler (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan ciri-ciri perkembangan perilaku sosial anak pada usia sekolah dasar sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tahap Ciri-Ciri
Kanak – Kanak Akhir ( 4 – 6 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai bisa menyesuaikan diri dengan aturan
Anak Sekolah ( 6 – 12 )
Masa Obyektif Membandingkan dengan aturan – aturan
Kritis II ( 12 – 13 )
Masa Pre Puber Perilaku coba-coba, serba salah, ingin diuji
Remaja Awal ( 13 – 16 )
Masa Subyektif Menuju
Masa Obyektif Mulai menyadari adanya kenyataan yang berbeda dengan sudut pandangnya

5. Karakteristik Perkembangan Kepribadian
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, (2005) mengemukakan perkembangan kepribadian anak School Age dengan kecenderungan yang bipolar :
Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.

C. Kerja Kelompok Dengan Sasaran Anak-Anak
Penanganan kelompok anak memerlukan pengetahuan khusus tentang perkembangan manusia khususnya anak dan teori kelompok (dinamika kelompok dan proses kelompok). Pemimpin kelompok dituntut mampu beradaptasi dengan tingkatan social, emosional, fisikal dan intelektual anak serta memiliki kemampuan menggunakan teknik verbal maupun non verbal.
Kelompok anak berfungsi mempromosikan kesiapan dan kemampuan anak untuk belajar, keterampilan – keterampilan khusus/ baru, keterampilan hidup dan mengoreksi kondisi-kondisi yang tidak sehat, pengembangan sumber data atau potensi anak, mengembangaan kesadaran akan nilai, prioritas dan lingkungan ; mengeksplorasi dan menghadapi tantangan sosial dan emosional serta memperoleh pengalaman mengelola perasaan, bantuan terhadap permasalahan perilaku, kehidupan yang sehat serta pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Kelompok anak disebut sebagai bimbingan kelompok atau pendidikan-psikologis, konseling dan psikoterapi kelompok. Kelompok anak dilakukan dalam adegan sekolah dan di luar sekolah.
Tipe kelompok anak tergantung pada faktor perkembangan dan bukan perkembangan (Yussi,2003). Kelompok anak dibedakan atas tiga tipe. Pertama, kelompok yang dibentuk khusus untuk pemberian informasi. Pemimpin kelompok berfungsi sebagi guru dan bekerja sama secara langsung dengan guru . Tipe ini efektif untuk membantu anak mempelajari perilaku yang tidak tepat , mempelajari cara baru yang lebih mudah untuk berinteraksi dan memperoleh timbal balik yang aman serta situasi praktis. Teknik yang digunakan adalah diskusi dan bermain peran. Tipe ini lebih bersifat bimbingan kelompok dan pendidikan – psikologis.
Tipe kelompok yang kedua adalah kelompok yang dibentuk dalam rangka peningkatan keterampilan dan kesadaran dalam lingkup personal dan interpersonal termasuk didalamnya nilai, sikap, keyakinan, kematangan social dan perkembangan karir. Tipe ini bersifat remediatif yang berhubungan dengan konsep diri, keterampilan komunikasi, hubungan interpersonal, pemecahan masalah, keterampilan akademik, keterampilan komunikasi dan pengembangan nilai. Tipe ini bersifat konseling kelompok dan psikoterapi. Tipe yang ketiga merupakan aktifitas gabungan dua tipe sebelumnya, yakni dengan perhatian terhadap banyak dimensi spesifik.
Tahapan bimbingan kelompok dilakukan dengan akronim SIPA yaitu structuring (S), yakni konselor menjelaskan panduan kegiatan ; involvement (I), yakni anggota kelompok aktif berpartisipasi; processing (P), yakni berbagai ide serta awareness (A), yaitu mengkonsolidasikan apa yang telah dipelajari.
Kegiatan bimbingan dan konseling berfungsi mempromosikan pemahaman diri dan orang lain. Program bimbingan di dalam kelas disebut program DUSO-R (Developing understanding of self and other-revised. Teknik dalam bimbingan dan pendidikan-psikologis kelompok harus bervariasi dengan memperhatikan penggunaan fantasi, berfokus pada perilaku yang harus dikembangakan/ ditingkatkan, menciptakan pandangan positif tentang diri serta bekerja dengan visualisasi.
Konseling kelompok dalam adegan sekolah secara esensial berfugsi menumbuhkan kesehatan mental. Konseling kelompok membantu anak belajar tentang diri dan orang lain dalam interaksi yang terstruktur. Tiga pendekatan dalam konseling kelompok dapat dibedakan, yaitu: Pendekatan kelompok pusat krisis, yaitu kelompok dengan konflik diantara anggota kelompok; dalam hal ini individu ditantang untuk memahami situasi dan berpikir tentang solusi yang mungkin dilakukan.
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kelompok pusat permasalahan, yaitu sebuah kelompok kecil yang memusatkan perhatian pada satu permasalahan. Teknik bermain peran digunakan pada tahapan ini. Kelompok yang sama adalah kelompok persahabatan dengan focus perilaku menyimpang, kekurangan keterampilan social dan penampilan persahabatan yang praktis.
Pendekatan yang ketiga adalah kelompok pusat pertumbuhan yang berfokus pada perkembangan social dan pribadi siswa. Kelompok bertujuan untuk mengeksplorasi perasaan, perhatian dan perilaku setiap hari.
D. Movement Exercise
BAB III
DESKRIPSI KEGIATAN

No Nama Kegiatan Deskripsi
1 Pendekatan – Mendekati dan mengenalkan diri pada anak kelas 4 yang sedang bermain bulu tangkis untuk berkumpul dan membentuk kelompok kecil
– Mengenalkan diri dan Mengajak bermain bersama kelas 5 yang sedang bermain sepak bola
2 Brain Gym Ditujukan untuk melatih konsentrasi teman-teman kelas 4&5 sebelum melakukan bimbingan konseling kelompok. Dalam kegiatan ini teman-teman kelas 4&5 membuat lingkaran-lingkaran kecil, menyanyikan lagu sambil bertepuk tangan dan menjentikan jari serta menyebutkan nama sendiri dan nama orang yang berdiri di sebelahnya.
3 Permainan Pembuka
“Ganjil-genap,Hitam-putih”
(SKLB Terlampir) – peserta diminta membuat lingkaran besar, dan pendamping berdiri di tengah sambil memberikan instruksi permainan
– peserta diminta menghitung posisinya dan menyebutkan apakah dirinya termasuk dalam hitungan ganjil atau genap
– pada saat sedang bermain, peserta sangat antusias, mereka saling menguatkan pegangan supaya temannya yang condong ke depan atau ke belakang supaya tidak jatuh. Walaupun akhirnya ada saja peserta yang jatuh
– ketika refleksi dan evaluasi, peserta mengerti bahwa kita tidak boleh membiarkan teman kita jatuh, maka dari itu harus saling mendukung dan membantu pada teman
4 Permainan Pembuka
“Buka Kadonya”
(SKLB terlampir) – Peserta di bagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelas 4 dan 5 yang harus bersaing dalam membuka bungkus kado dimana setiap orang dalam kelompok itu hanya bisa menggunakan satu jari saja.
– Pendamping memberi instruksi untuk menunjuk ketua kelompok yang bertugas memimpin dan memberikan instruksi pada anggota kelompoknya
– Pendamping memberi aturan permainan dan meminta tiap kelompok untuk mengatur strategi supaya kelompoknya dapat memenangkan pertandingan itu.
– Saat bermain, suasana sangat ramai dan berisik, karena dari 2 kelompok tersebut saling berteriak satu sama lain mengatur teman-temannya.
– Pada saat permainan kelas 5 mengalami kalah, karena dari 2 bungkus kado yang harus dibuka, mereka membagi 9 anggotanya menjadi 2 kelompok kecil, jadi untuk membuka satu bungkus kado saja lama karena tenaga hanya sedikit.
– Kelas 4 berstrategi unuk membuka 1 bungkus kado satu persatu bersama-sama jadi waktu pembukaan bungkus kado pun menjadi cepat.
– Tapi dari segi kerapihan membuka bungkus kado poin kelas 5 lebih besar.
– Kelas 5 terpaksa kekurangan 2 anggotanya karena melanggar peraturan yaitu mengganti jari dan menggunakan jari lebih dari 1. Orang yang keluar tersebut diberi hukuman, yaitu menyanyikan lagu sambil bergaya. Semuanya tertawa ketika melihat hukuman itu berlangsung.
– Pada permaianan ini terlihat sebagian kecil karakter dari anak-anak tersebut, ada yang hanya mengatur tapi tidak bergerak, ada yang tidak peduli terhadap jari temannya yang sakit, ada yang serius mengikuti permainan, dsb
6 Permainan Inti
“BEBAS!!!”
(SKLB terlampir) – Peserta diberi instruksi permainan, BEBAS TALI, yaitu memindahkan tali dari satu teman ke teman yang lain, tapi tanpa melepaskan pegangan tangan mereka
– Permainan sangat seru, namun kelas 5 lagi-lagi mengalami kekalahan, dengan alasan teman-mereka tinggi-tinggi. Namun disini dipahamkan bahwa bukan karena mereka fisiknya seperti itu, tapi karena kurang siap dan kurang matang strateginya, dan mereka mau mengerti dan paham bahwa kekalahan mereka adalah karena ketua terpilih tidak tegas, sehingga banyak instruksi yang bermacam-macam dan membuat bingung.
– Setelah Bebas Tali, peserta bermain BEBAS TANGAN. Pendmaping menistruksikan untuk berpegangan tangan secara bersilang, dan mereka harus dapat membalikan badan tanpa melepas pegangan tangan tersebut.
– Pada permainan ini kahirnya kelas 5 berhasil main dengan baik. Dan saat refleksi akhirnya kelas 5 sadar bahwa bekerja sama, mendengarkan ketua, dan terbuka pada teman lainnya membuat mereka menang.
7 Permainan Penutup
“Kapal Karam”
(SKLB terlampir)
– Saat permainan kapal karam, anak diminta berkelompok kecil (terdiri dari 3 orang), yang masing-masing kelompok harus berdiri di atas selembar kertas koran
– Anak diminta menggunakan imajinasinya yang dipandu oleh pembimbing
– Mereka berdiri di atas kapal dan menuju australia, namun karena bertemu gurita raksasa, kapal terbentur, dan pecah, kapal semakin kecil. Saat mendengar kata “kapal semakin kecil” kelompok itu harus turun dan melipat bagian koran seperti yang sudah diinstruksikan pembimbing, dan begitu seterusnya sampai kapal mereka menjadi snagat kecil. Ada beberapa kelompok yang satu anggotanya tidak daapt berdiri lagi dikapal, ada yang saling gendong dan berjinjit, ada juga yang menjadikan kaki teman mereka sebagai pijakan untuk berdiri.
– Pada saat refleksi, sebagian besar mengira permainan ini hanya team work saja, mungkin karena kelelahan setelah bermain. Padahal untuk membantu teman, selama kita masih bisa dan mampu, maka kita harus menolongnya dengan kekuatan yang kita punya.
8 Pengisian Jurnal Kegiatan Setelah kegiatan selesai, anak-anak diminta untuk mengisi jurnal kegiatan mengenai aktifivitas mereka. Setelah itu pembimbing menutup kegiatan dan mengucap kan terima kasih juga foto bersama..

multiplycontent.com/…/makalah%20akhir%20defiiit.docx?

Kumpulan Studi Kasus

Ingin mempelajari tentang studi kasus coba aja baca di http://www.docstoc.com disini tersedia studi kasus Anak Gagap, Studi Kasus (Anak Manja), Studi Kasus Kurang Konsentrasi, Studi kasus Anak Egois, Studi Kasus Anak Hiperaktif, Gangguan Kecemasan Pada Anak dll. Oke deh met membaca & Mengkaji sapa tau terinspirasi….

Hypnotherapy adalah Salah satu cara untuk mengatasi berbagai macam permasalahan psikilogis (Psikoterapi) dengan mengaplikasikan teknik hypnosis.

Hypnotherapy juga merupakan teknik yang sangat efektif untuk menjangkau pikiran bawah sadar seseorang, karena pada umumnya permasalahan psikologis disebabkan oleh memori, pengalaman atau pemahaman yang tertanam dalam pikiran bawah sadar.

Dalam setiap sesi Hypnotherapy diperlukan adanya kerjasama antara klien dengan Hypnotherapist. Oleh karena itu Hypnotherapy sangat efektif jika dilakukan atas keinginan dari diri sendiri.

Secara garis besar mekanisme dari hypnotherapy adalah :

* Mencari penyebab atau akar permasalahan yang tertanam dalam pikiran bawah sadar.

* Melakukan edukasi atau memberikan sudut pandang lain terhadap sebuah permasalahan didalam pikiran bawah sadar.

* Memberikan Saran, memori atau suggesti baru untuk ditanamkan sehingga dijadikan pemahaman atau nilai baru dalm pikiran bawah sadar, sesuai dengan keinginan atau kebutuhan klien.

Biasanya pada setiap sesi Hypnotherapy klien akan dibimbing untuk melakukan relaksasi terlebih dahulu, kemudian klien akan dibuat “seperti tertidur” (Hypnosis State), karena dalam kondisi itu pikaran Sadar (Conscious Mind) cenderung tidak aktif dan pikiran bawah sadar (Sub Conscious Mind) sangat terbuka dan sangat aktif, setelah itu barulah teurapetic procedur bisa dilakukan.

Namun perlu diketahui bahwa tidak selamanya sesi hypnotherapy dilakukan saat klien dalam keadaan “Tidur” (Hypnosis state) karena dalam kasus – kasus tertentu Hypnotherapy dapat dilkuan dalam keadaan mata terbuka (Normal State) atau dalam kata lain Wakeing Hypnosis.

Tidur dalam Hypnosis State bukan berarti hilang kesadaran atau hilang kendali, karena walaupun klien telah memasuki Hypnosis State, klien masih memegang kendali atas dirinya, klien masih bisa mengetahui serta mengingat apa yang terjadi selama sesi hipnotherapy berlangsung.

Hypnotherapy Area :

*
Relaksasi
*
Trauma
*
Phobia
*
Motivasi
*
Kecanduan / Kebiasaan buruk
*
Percaya Diri
*
Sport

*
Stress
*
Insomnia
*
Pengendalian rasa sakit
*
Pengendalian Berat Badan*

*
Psikosomatik
*
Permasalahan Seksual*

*
dan sebagainya

( sumber dari praktisi hypnosis )

Sumber: http://www.takeactions.net

Tak usah panik jika bayi menangis. Anda dapat mengatasinya dengan mudah jika tahu sebabnya. Jangan pula berpikir, ia anak yang rewel. Menangis adalah cara si kecil berkomunikasi dengan Anda. Khususnya selama 12 bulan pertama kehidupannya.

Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama kehidupan, baik siang maupun malam. Ini karena bayi yang baru lahir masih berada dalam fase penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar.

Banyak-sedikitnya tangisan, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya “Perkembangan Anak II”, berbeda-beda menurut cepat dan memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan. Setelah umur dua minggu, ada sebagian bayi yang menangis berlebihan. Dalam kebanyakan kasus dilaporkan, orangtua bayi tersebut tak cepat memperhatikan tangis bayinya dan tak konsisten menanggapinya.

Jumlah tangisan juga bervariasi menurut “saat harinya”, bertepatan dengan saat jadwal bayi. Misalnya, bayi paling sering menangis sebelum saatnya diberi makan dan sebelum waktunya tidur malam. Ketika bayi dapat menyesuaikan diri dengan jadwal waktu makan dan tidur, tangisan pada saat-saat tersebut berkurang.

Jangan hentikan tangisnya dengan cara mengangkatnya setiap kali ia rewel atau menangis. Carilah apa yang salah dan jika tak terlalu serius, segera alihkan perhatiannya.

Menurut Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed., dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM, secara garis besar bayi menangis dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar, haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil, kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu penyakit seperti infeksi, hernia, sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.

Jika bayi menangis karena penyakit, periksakan ia ke dokter. Tapi jika tidak, Anda dapat membantu menenangkannya.

Cermati ketika bayi menjadi rewel
bayi rewel petanda awal ada masalah

bayi rewel petanda awal ada masalah

MENJELANG tidur, sering kali tangisan bayi tak dapat dihindari. Rasa sedih, panik, bingung pasti dialami sang ibu, apalagi jika dia baru pertama kali memiliki momongan.

Memang, menangis adalah respons paling primitif yang akan dilakukan bayi terhadap lingkungan barunya. Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebab-sebab si kecil menjadi rewel saat jelang tidurnya.

Bila bayi yang biasanya “anteng” tiba tiba rewel hingga membuat mommies kebingungan, sudah dapat dipastikan si kecil memiliki masalah khusus yang dirasa mengganggu dirinya. Di sini, tugas para mommies lah untuk mencari sumber penyebab masalah serta sedapat mungkin mencari alternatif tindakan antisipasi agar “ketidaknyamanan” yang dirasakan si kecil dapat berkurang.

1. Lapar
Jika bayi Anda merasa lapar, dia akan membuka dan menutup mulutnya (mengecap) atau mulai menghisap jemarinya.

2. Lelah

Jika Anda melihat si kecil mulai diam dan terlihat bosan dengan mainannya, ia sering kali mengusap mata, atau menguap berulang kali. Mungkin ini juga pertanda sudah waktunya untuk tidur siang.

3. Bosan

Rasa bosan dan tidak nyaman sering kali dialami si kecil. Tak heran, jika dia mendadak menangis dengan suara melengking, bahkan diikuti suara raungan dan jeda untuk diam sesaat. Belum lagi jika Anda berlama-lama berbicara dengan sahabat Anda melalui telepon, wah, bisa-bisa si kecil akan memancing perhatian Anda dengan cara menangis sekeras-kerasnya. Jika hal itu terjadi, segeralah bermain dengannya atau cukup sentuh dirinya sebagai tanda bahwa Anda ada di sampingnya.

4. Kesepian

Jika bayi tertidur di gendongan Anda dan terbangun sambil menangis ketika Anda meletakkannya di kasur bayi, jangan panik. Bisa saja itu terjadi karena dia merasa bingung dan takut ditinggal sendirian. Atau, itu merupakan cara untuk mengatakan bahwa dia tak ingin lepas dari gendongan dan hangatnya pelukan Anda.

5. Terlalu banyak stimulasi

Siapa yang tak senang melihat bayi lucu nan “montok”. Bisa dipastikan banyak orang yang akan berusaha untuk mencuri perhatiannya atau sekadar mencubit pipinya. Tak ayal, bayi Anda akan bingung menghadapi itu semua. Tak pelak, si kecil akan menutup matanya atau memalingkan muka kemudian menangis. Itu artinya, dia butuh sedikit ketenangan.

6.Kolik

Kolik bayi adalah istilah yang dipakai untuk keadaan dimana bayi terus menerus menangis secara berlebihan. Kolik atau sakit perut yang datang secara bergelombang (spasmodik). Tetapi karena bayi belum bisa mengeluh maka tidak bisa dipastikan sebab bayi menangis. Jika tidak bisa menemukan sebab yang jelas seperti rasa lapar, popok bayi basah, demam, maka bayi yang menangis secara berlebihan dianggap sebagai kolik bayi.

Diduga penyebab terjadinya Kolik mungkin disebabkan oleh kejang otot didinding susu, udara dalam usus dan gangguan pencernaan. Akibatnya, bayi Anda merasa tidak nyaman dan lebih rewel.

Untuk mencegah terjadinya gangguan ini, sesaat setelah diberi minum atau makan, sebaiknya si kecil ditepuk-tepuk supaya bersendawa. Apabila usaha diatas tidak berhasil, diamkan dengan cara-cara yang biasanya cukup berhasil seperti dipeluk erat-erat, diayun-ayun, dimandikan, diberi dot, atau dinyanyikan. Tapi bila ia terlanjur kolik, berilah obat tetes anti kolik, sesuai petunjuk dokter. Obat tetes kolik dapat dibeli diapotek.

Tidak ada cara yang manjur untuk mencegah kolik bayi, tetapi dari beberapa artikel. Orang tua biasa mengusahakan untuk menghilangkan penyebab-penyebab yang mungkin terjadi dengan cara sebagai berikut:

* Pastikan bahwa lubang botol bayi sudah sesuai besarnya untuk mencegah bayi menelan terlalu banyak udara sewaktu minum.

* Usahakan supaya bayi bersendawa dengan baik setiap habis minum.

* Hindarkan jangan sampai bayi terlalu lapar/harus menunggu lama untuk minum asi.

7. Flu & Demam

Bayi sangat rentan terhadap Flu. Umumnya flu ringan akan sembuh dengan sendirinya setelah 2-3 hari, sekalipun tidak diobati. Tetapi, bayi yang terkena flu biasanya rewel dan sulit makan, karena ia tidak leluasa bernapas melalui hidungnya. Kalau sudah begini, jangan terburu – buru langsung di bawah ke dokter beberapa tips dan trik simple sebagai berikut:

* Jangan panik ketika anak mulai terserang demam, flu .

* Kalau flunya di barengi dengan panas, ukur suhu tubuh si anak. Ada batas suhu, apakah anak masih termasuk normal atau tidak, gunakan Kompres untuk mengurangi panas pada anak. Kalau masih belum reda berikan penurun panas. Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter, menurut American Academy of Pediatrics (AAP) sebagai berikut:

v Bila bayi berusia 38C

v Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C

v Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

* Berikan cairan seperti Air putih sesering mungkin.

* Supaya “ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami flu apa lagi pada malam hari, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung

* Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih yang di teteskan Minyak kayu putih setelah anak tidur.

* Beri Paracetamol – bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)

* Untuk pencegahan, sering – sering cuci tangan, hindari kontak dengan penderita flu, Jaga kebersihan rumah seperti Kamar tidur, Kamar Mandi, Dapur dsb.

9. Ruam popok

Kulit bayi umumnya sangat sensitif. Tak mengherankan jika banyak bayi yang menderita ruam popok. Biasanya ruam timbul karena si kecil alergi terhadap amoniak yang terkandung dalam urinnya, atau bisa juga karena ia alergi terhadap bahan dasar popok.

Pada kebanyakan kasus, ruam dapat disembuhkan dengan salep kulit yang diberikan oleh dokter. Akan tetapi, untuk menghindari ruam popok, tidak ada salahnya bila si kecil memakai popok berulangkali pakai yang terbuat dari kain tetra. Bukan hanya itu, Anda juga harus rajin mengganti popoknya yang basah.

10. Gusi Gatal

Umumnya si kecil mulai tumbuh giginya ketika berusia 7 bulan. Pada waktu giginya menembus gusi, biasanya timbul rasa tak nyaman yang disebabkan oleh gusinya yang meradang. Akibatnya si kecil pun rewel.

Sebenarnya gangguan ini dapat diatasi dengan memberinya jel atau sirop penghilang rasa sakit. kalau pertumbuhan gigi bayi Anda juga disertai demam, jangan lupa berikan obat penurun panas. Jika panasnya terus berlanjut, segera hubungi dokter Anda.

Agar Bayi Anda Tidak Rewel

* Usahakan membuat jadwal harian sesuai kecenderungan alami bayi. Bila perlu, buat catatan harian untuk menemukan pola waktu dari hari-hari bayi Anda. Misal, pada saat kapan saja ia rewel dan apa saja penyebabnya, sekitar jam berapa ia biasanya lapar dan tidur, dan sebagainya.
* Sedapat mungkin lakukan hal yang sama pada waktu yang sama setiap hari. Saat menyusui, misalnya. Meski ia tampaknya tak lapar atau sudah lapar sebelum waktunya, usahakan untuk tetap bertahan pada jadwal. Bila perlu, beri ia makanan kecil jika ia tampak lapar di antara waktu-waktu menyusui.
* Pada tahap awal, Anda hendaknya tak bersifat kaku atau sangat ketat terhadap jadwal. Sedikit kekacauan tak masalah. Yang penting, pada akhirnya nanti si kecil menjadi terbiasa dengan suatu rutinitas atau melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
* Hindari hal-hal yang dapat mengganggu kenyamanan tidur si kecil. Jika ia suka begadang, ayah dan ibu dapat bergiliran melakukan tugas malam. Perhatikan hal-hal apa saja yang membuatnya suka begadang sehingga Anda dapat menghindarinya, lalu cobalah perlahan-lahan menetapkan jadwal tidur yang lebih baik.
* Perkenalkan ia pada obyek-obyek baru secara bertahap. Misalnya, gantungkan mainan baru di boksnya untuk 1-2 menit, lepaskan dan pasang lagi beberapa saat kemudian untuk waktu sedikit lama. Begitu seterusnya sampai ia siap untuk menerima dan menikmati mainan baru tersebut.
* Mintalah orang-orang “baru” untuk tak langsung mendekati si kecil. Mula-mula mereka bisa menatap si kecil dengan jarak agak jauh dan mengajaknya bicara dari kejauhan pula. Minta mereka sering hadir dan menyapanya sampai akhirnya si kecil tak merasa asing lagi.
* Perkenalkan satu jenis makanan baru secara bertahap, mulai dari jumlah yang sangat sedikit. Jangan tambah dengan makanan baru lainnnya sebelum si kecil dapat menerima makanan baru pertamanya.
* Hindari membeli botol susu baru dengan bentuk atau warna yang sangat berbeda. Begitu pun barang-barang lain untuk keperluan si kecil seperti seprei, selimut, dan sebagainya.

Catatan Penting

Bayi Jangan Sering Digendong
bayi jangan terlalu sering digendong

bayi jangan terlalu sering digendong

Agar tidak terus-terusan menangis, orangtua maupun pengasuh anak pun memilih untuk sering menggendong si bayi. Ternyata, terlalu sering menggendong bayi berdampak kurang baik.

“Kalau sering digendong, tidak ada keleluasaan bergerak. Akibatnya motorik kasar tidak berkembang. Kalau rewel diajak bermain saja,” kata dokter spesialis anak dr Attila Dewanti SpA.

Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan kecerdasan anak sejak dini” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9/2007).

Attila kemudian menyampaikan tahapan perkembangan motorik kasar pada anak sejak bayi. Umur 3-4 bulan, bayi mulai tengkurap. Umur 5-6 bulan duduk. Pada umur 7-8 bulan merangkak. Lalu pada 9-11 bulan berdiri. Umur 12-13 bulan bayi berjalan. Pada umur 18 bulan mulai bisa jongkok dan berdiri. Sedangkan di umur 36 bulan, bayi sudah bisa melakukan gerakan spesifik dan kompleks.

“Semua tahapan itu harus dilewati. Kalau tidak melewati, orangtua harus mengarahkan. Bila terlewat, nanti saat dewasa ada kemampuan motorik kasar yang tidak bisa dilakukan juga,” jelas perempuan berkacamata itu.

Ditambahkan dia, sebaiknya bayi juga tidak menggunakan baby walker. Alat ini membuat bayi pasif, berjalan jinjit, dan rentan jatuh.

Pencapaian tahapan perkembangan motorik halus juga ada tahapan-tahapannya. Misalnya saja, telapak tangan mulai terbuka biasa dilakukan bayi umur 3 bulan. Pada umur 10 bulan sudah mulai meniru gerakan dan suara. Karena rentan meniru, orangtua jangan menggunakan bahasa bayi saat berkomunikasi dengan anak. Hal itu bisa mengakibatkan anak bicara cadel meski sudah besar.

Seiring bertambahnya umur, anak mulai bisa menggunakan tangan untuk memegang benda besar dan kecil. Mereka juga mulai bisa membalik lembaran buku.

“Tapi sebaiknya, orangtua juga memberi kesempatan agar semua tahap perkembangan anak berjalan normal sesuai usia. Jangan diburu-buru,” sambung Attila. (nvt/sss)

http://rinimaniez.blogspot.com ditulis oleh renee pada 9/23/2007 09:59:00 PM

http://www.wrm-indonesia.org/

sumber : http://informasisehat.wordpress.com
http://lifestyle.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/31/196/159292/6-penyebab-bayi-rewel

Artikel ini sengaja saya copy dr slh satu web untuk para mahasiswa ini berawal dr permaslahan yg saya hadapi dan tak ingin terulang lg so baca ya!!….

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”.

Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain.

Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya.

Apa itu Skripsi
Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”.

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.
Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan

Siapkan Diri.
Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu.
Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table.
Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet.
Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif.
Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible.
Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur.
Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.

Siapkan Duit.
Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?
Tahap-tahap Persiapan

Kalau Anda beruntung,
bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya,
kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya,
skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan.
Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.
Kiat Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai:
(1) dosen senior, dan
(2) dosen junior.
Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

* Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
* Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.

Tapi, keuntungannya:

* Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
* Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda.
* Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.

Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.
Format Skripsi yang Benar

Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut.

Pendahuluan.
Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis.
Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian.
Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian.
Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran.
Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).

Beberapa Kesalahan Pemula

Ketidakjelasan Isu.
Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset.
Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting.
Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding.
Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses.
Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan.
Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset.
Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.
Menghadapi Ujian Skripsi

Benar.
Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.
Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Jadi, menyusun skripsi itu sebenarnya mudah kan?

sumber : sharing
semoga berguna……
http://www.acehforum.or.id

Kognisi

Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu.

Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan.

Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. Merubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat merubah perilaku mereka.

Sejarah
Istilah kognisi berasal dari bahasa latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan [2].Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir [3]. Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri.

Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk diimitasi.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kognisi maka berkembanglah psikologi kognitif yang menyelidiki tentang proses berpikir manusia. Proses berpikir tentunya melibatkan otak dan saraf-sarafnya sebagai alat berpikir manusia oleh karena itu untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir maka berkembanglah neurosains kognitif. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh kedua bidang ilmu tersebut banyak dimanfaatkan oleh ilmu robot dalam mengembangkan kecerdasan buatan.

Fungsi-fungsi kognisi

Atensi dan kesadaran
Persepsi
Persepsi adalah rangkaian proses pada saat mengenali, mengatur dan memahami sensasi dari panca indera yang diterima dari rangsang lingkungan. Dalam kognisi rangsang visual memegang peranan penting dalam membentuk persepsi. Proses kognif biasanya dimulai dari persepsi yang menyediakan data untuk diolah oleh kognisi.
Ingatan
Ingatan adalah saat manusia mempertahankan dan menggambarkan pengalaman masa lalunya dan menggunakan hal tersebut sebagai sumber informasi saat ini. Proses dari mengingat adalah menyimpan suatu informasi, mempertahankan dan memanggil kembali informasi tersebut. Ingatan terbagi dua menjadi ingatan implisit dan eksplisit. Proses tradisional dari mengingat melalui pendataan penginderaan, ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang.
Bahasa
Bahasa adalah menggunakan pemahaman terhadap kombinasi kata dengan tujuan untuk berkomunikasi. Adanya bahasa membantu manusia untuk berkomunikasi dan menggunakan simbol untuk berpikir hal-hal yang abstrak dan tidak diperoleh melalui penginderaan. Dalam mempelajari interaksi pemikiran manusia dan bahasa dikembangkanlah cabang ilmu psikolinguistik
Pemecahan masalah dan kreativitas
Pemecahan masalah adalah upaya untuk mengatasi hambatan yang menghalangi terselesaikannya suatu masalah atau tugas. Upaya ini melibatkan proses kreativitas yang menghasilkan suatu jalan penyelesaian masalah yang orisinil dan berguna.
Pengambilan keputusan dan penalaran
Dalam melakukan pengambilan keputusan manusia selalu mempertimbangkan penilaian yang dimilikinya. Misalnya seseorang membeli motor berwarna merah karena kepentingan mobilitasnya, dan kesenangannya terhadap warna merah. Proses dari pengambilan keputusan ini melibatkan banyak pilihan. Untuk itu manusia menggunakan penalaran untuk mengambil keputusan. penalaran adalah proses evaluasi dengan menggunakan pembayangan dari prinsip-prinsip yang ada dan fakta-fakta yang tersedia. Penalaran dibagi menjadi dua jenis yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi

Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

Sejarah
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume—memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.

Psikologi kontemporer

Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku, yaitu:

Psikologi Fakultas
Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’ yang meliputi: berpikir, merasa dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa subfakultas: kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya.
Psikologi Asosiasi
Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah ‘asosiasi ide.’ Dimana ide masuk melalui alat indera dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan.

Dalam perkembangan ilmu psikologi kemudian, ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi oleh Wundt (1879) Pada saat itu pengkajian psikologi didasarkan atas metode ilmiah (eksperimental) Juga mulai diperkenalkan metode intropeksi, eksperimen, dsb. Beberapa sejarah yang patut dicatat antara lain:

* F. Galton > merintis test psikologi.
* Charles Darwin > memulai melakukan komparasi dengan binatang.
* A. Mesmer > merintis penggunaan hipnosis
* Sigmund Freud > merintis psikoanalisa

Psikologi sebagai ilmu pengetahuan

Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia.

Laboratorium Wundt

Pada tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University of Leipzig, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.

Berdirinya Aliran Psikoanalisa
Berdirinya Aliran Behavioris
Berdirinya Aliran Fenomenologis

Fungsi psikologi sebagai ilmu
Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:

Menjelaskan
Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.
Memprediksikan
Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.
Pengendalian
Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya prevensi atau pencegahan, intervensi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.

Pendekatan Psikologi
Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu
Pendekatan neurobiologis
Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.


Pendekatan perilaku

Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.

Pendekatan kognitif

Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Pendekatan psikoanalisa

Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Pendekatan fenomenologi

Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

Kajian psikologi
Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:

Psikologi perkembangan

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut.

Psikologi sosial

bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :

1. studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
2. studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain
3. studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, persaingan, konflik

[sunting] Psikologi kepribadian

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.
Psikologi kognitif

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.

Wilayah terapan psikologi

Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.

Psikologi pendidikan

Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.

Psikologi sekolah

Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak.

Psikologi industri dan organisasi

Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya.

Psikologi kerekayasaan

Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error).

Psikologi klinis

Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.

Parapsikologi

Parapsikologi adalah cabang psikologi yang mencakup studi tentang extra sensory perception, psikokinesis, dan sebagainya [1][2][3]. Bagi para pendukungnya, parapsikologi dilihat sebagai bagian dari psikologi positif dan psikologi transpersonal[1][4][3]. Penelitian parapsikologi pada umumnya dilakukan di laboratorium sehingga parapsikolog menganggap penelitian tersebut ilmiah.[1][3]. Kritisisme terhadap parapsikologi [5] dan dukungan terhadap parapsikologi dari American Association for the Advancement of Science terhadap affiliasinya yaitu Parapsychological Association [6]

Salah Kaprah Tentang Psikologi

Psikologi Bukan Ilmu Pengetahuan
Psikologi telah memiliki syarat untuk dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari Filsafat. (Syarat Ilmu Pengetahuan: Memiliki objek (Tingkah laku), memiliki metode penelitian (sejak laboratorium Wundt didirikan psikologi telah membuktikan memiliki metode ilmiah), sistematis,dan bersifat universal.

Lihat keterangan lebih lanjut dari bahasan ini dalam artikel Kontroversi ilmu psikologi.

Salah penggolongan
Berbagai hal yang berbau kepribadian sering dimasukan kedalam psikologi, semisal: ramalan-ramalan seputar kepribadian (palmistry, chirology, dll.) sehingga terbentuk pandangan tentang psikologi bukanlah ilmu pengetahuan.
Terjebak dengan kata Psikotes
Psikologi bukan hanya psikotes, tetapi inilah bagian dari psikologi yang paling populer di masyarakat. Banyak kalangan yang sinis dengan psikologi karena psikotes, bagaimana psikolog dapat memvonis potensi seseorang dengan hanya serangkaian tes. Sesungguhnya masih banyak metode lain yang dapat digunakan, akan tetapi seringkali metode ini dipilih untuk alasan efisiensi.
Psikologi melakukan dehumanisasi
Kebalikannya, psikologi memandang setiap individu adalah unik, bahkan psikotes dilakukan untuk lebih memahami keunikan dari setiap individu. Justru, kalangan yang menyamaratakan setiap individu secara tidak langsung memvonis manusia adalah robot (dehumanisasi) yang tidak memiliki keunikan satu sama lainnya.

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi

1. ^ a b c Aspinwall, L. G., & Staudinger, U. M. (Eds.) (2003). A Psychology of Human Strengths: Fundamental Questions and Future Directions for a Positive Psychology. Washington, DC: American Psychological Association.
2. ^ Kihlstrom, F.J. 2000. Parapsychology. In Kazdin, A,E. Encylopedia of Psychology. Volume 8. Washington DC: American Psychological Association.
3. ^ a b c Tart, C.T. 2004. On the Scientific Foundations of Transpersonal Psychology: Contributions from Parapsychology. The Journal of Transpersonal Psychology. Vol.36. (1). 66-90.
4. ^ Lajoie, H.J., & Shapiro, S.I. 1992. Definitions of Transpersonal Psychology: The First Twenty-Three Years. The Journal of Transpersonal Psychology. Vol.24. (1). 79-98.
5. ^ Parapsychology & Science: Why Do Some Treat Parapsychology as a Science?
6. ^ Situs afiliasi American Association for the Advancement of Science

* Atkinson, Pengantar Psikologi. Interaksara, Batam. (2 jilid)
* Chaplin, James P., Kamus Lengkap Psikologi. Rajawali Press, Jakarta, 2005. ISBN 979-421-215-6
* Sudarsono, Pengantar Kuliah Psikologi Umum, Fak. psikologi Unas Pasim, 2004.
* Suryabrata, Sumadi, Psikologi Kepribadian. Rajawali Press, Jakarta, 1982. ISBN 979-421-044-7